Duta Publik

Pengrajin Bata Merah Tradisional Di Cirebon, Berharap Nasib Mereka Diperhatikan Pemerintah

389

dutapubkik.com – CIREBON Para Pengrajin bata merah tradisional di Desa Danawinangun blok Karang Mingkrik, Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon, terus melakukan kegiatannya.

Walaupun sekarang musim penghujan masih berlangsung dan dengan peralatan yang serba sederhana para pengrajin bata merah ini tetap bertahan, ditengah kondisi perekonomian yang terpuruk dampak dari Pandemi Covid-19.

Adalah Kadri, salah seorang Pengrajin bata merah tradisional Desa Danawinangun menuturkan, bahwa mulai dari awal proses sampai pembakaran membutuhkan waktu yang cukup lama, apalagi untuk musim penghujan saat ini.

“Menurut kalkulasi proses, karena dari mulai awal proses pengolahan tanah sampai prosess percetakan dan nunggu proses pengeringan saja membutuhkan waktu yang begitu lama, yaitu bisa memakan waktu 15 sampai 20 hari.”

“Belum pembakaran, butuh waktu dan modal yang cukup lumayan. Sedangkan harga bata merah per biji hanya sembilan ratus rupiah untuk barang yg sudah matang dibakar,” jelasnya, ketika diwawancarai awak media dutapublik.com, Rabu (31/3).

Sebenarnya, kata Kadri melanjutkan, pengeluaran biaya produksi dengan harga jual barang jadi tidaklah menguntungkan.

“Sebenarnya sangatlah minus, akan tetapi apa boleh buat, yang penting punya kegiatan dan dapur ngebul. sedangkan untuk kebutuhan keluarga,  harus ngutang ke sana kemari,” keluhnya.

Pada dasarnya, mereka menginginkan perhatian dari Pemerintah. Dengan harapan pihak Pemdes, Pemkab dan Pemprov ikut membantu para Pengrajin dengan menyediakan peralatan yang lebih modern, sehingga penghasilan mereka bisa mengimbangi biaya produksi yang selama ini sangatlah tidak seimbang.

“Tapi kami tidak tahu harus kepada siapa mengajukannya, karena kami tidak mengerti,” pungkasnya.

Padahal kalau diperhatikan dari latar belakang sejarah, para pengrajin bata merah haruslah dihargai. Karena berkat hasil karyanya mereka, Gedung dan bangunan lainnya bisa berdiri tegak.

Dari semenjak adanya peralatan modern dalam memproduksi bata merah, Nasib Pengrajin bata merah tradisional sangat memprihatinkan.

Sepatutnya Pemerintah memberikan penghargaan dan proteksi khusus untuk pengrajin bata merah tradisional tersebut. Karena secara tidak langsung, mereka juga ikut menyumbang demi tumbuhnya pembangunan di Negara Indonesia. (suhartono)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!