dutapublik.com, MADINA – Polres Mandailing Natal (Madina), Polda Sumatera Utara, melakukan pemusnahan tanaman ganja di kawasan pegunungan Tor Sihite, Desa Rao-rao Dolok, Kecamatan Tambangan, pada Senin (23/6/2025).
Personel Polres Madina memusnahkan sekitar 6 hektare lahan yang ditanami ganja dengan cara dibakar. Ladang ganja tersebut ditemukan berkat informasi dari masyarakat serta hasil pantauan menggunakan kamera drone.
Kapolres Madina, AKBP Arie Sofandi Paloh, S.H., S.I.K., yang didampingi sejumlah Pejabat Utama (PJU) di Rao-rao Dolok, membenarkan bahwa pihaknya berhasil menemukan ladang ganja seluas 6 hektare di wilayah Tor Sihite. Tanaman ganja yang ditemukan diperkirakan berusia sekitar enam bulan dengan tinggi mencapai dua meter.
“Awalnya, ladang ganja ini diperkirakan hanya seluas satu hektare. Namun, setelah dilakukan penyelidikan langsung ke lokasi dan analisis dari kamera drone, luasnya ternyata sekitar enam hektare,” ujar Kapolres Madina.
Ia menambahkan, tim dari Polres Madina, dibantu oleh masyarakat setempat, membutuhkan waktu sekitar lima jam perjalanan kaki untuk mendaki gunung yang cukup terjal demi mencapai lokasi ladang ganja tersebut. Seluruh tanaman ganja yang ditemukan berada dalam satu hamparan besar.
“Tanaman ganja yang kami temukan langsung dimusnahkan dengan cara dibakar. Sebanyak 140 batang ganja kami bawa ke Polres Madina untuk dijadikan barang bukti,” jelasnya.
Alumni Akpol 2005 ini menegaskan bahwa penemuan ladang ganja tersebut merupakan bukti nyata komitmen Polri, khususnya Polres Madina, dalam upaya pemberantasan narkoba. Ia pun berharap adanya dukungan penuh dari Pemerintah Daerah dan seluruh lapisan masyarakat.
“Dalam pembentukan Satgas Narkoba oleh Bapak Bupati, ini adalah salah satu bukti bahwa Polres Madina selalu bergerak aktif untuk memberantas dan memusnahkan narkoba di wilayah ini,” ungkapnya.
Dalam pengungkapan ini, petugas tidak menemukan seorang pun pelaku di lokasi ladang ganja. Kapolres menyebut bahwa kondisi medan yang terjal serta jauhnya jarak dari permukiman menjadi kendala utama dalam pengungkapan pelaku.
“Kami terus berupaya mencari pelaku penanaman. Namun, saat berada di lokasi, tidak satu pun orang ditemukan. Para pelaku ini kemungkinan besar adalah orang yang memang sudah terbiasa dengan kondisi lokasi yang curam dan sulit dijangkau,” pungkasnya. (S.N)


