Suli Da’im: Perbedaan Awal Ramadan dan Syawal Adalah Ijtihadiyah, Bukan Masalah Akidah

64

dutapublik.com, SIDOARJO – Ratusan jemaah memadati Lapangan Panser Sumput, Sidoarjo, untuk melaksanakan salat Idulfitri 1447 H. Meski tahun ini terdapat perbedaan waktu pelaksanaan dengan keputusan pemerintah, suasana ibadah tetap berlangsung khidmat dan penuh persaudaraan.

Dalam khutbahnya, Dr. H. Suli Da’im, M.M., menegaskan bahwa perbedaan dalam penentuan awal Ramadan maupun Syawal merupakan hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam.
Menurutnya, perbedaan tersebut lahir dari metode ijtihad, yakni rukyat (pengamatan hilal secara langsung) dan hisab (perhitungan astronomis). “Setiap tahun umat Islam kerap menghadapi perbedaan ini. Namun, perlu diingat bahwa baik rukyat maupun hisab memiliki dasar syar’i serta pijakan ilmiah yang kuat,” ujar Anggota DPRD Jawa Timur tersebut di hadapan jemaah.

Mantan Ketua Umum PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur itu menjelaskan bahwa Al-Qur’an Surat Yunus ayat 5 memberikan legitimasi terhadap penggunaan perhitungan matematis dalam menentukan waktu.
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (hisab),” kutipnya.

Ia menjelaskan, kata hisab dalam ayat tersebut merujuk pada perhitungan yang sistematis. Matahari dan bulan bergerak berdasarkan hukum yang pasti dan dapat dihitung, sehingga menunjukkan bahwa Islam mendorong rasionalitas dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Suli Da’im yang juga menjabat sebagai Ketua Umum IKA Umsida dan Wakil Ketua Umum Fokal menegaskan bahwa persaudaraan harus ditempatkan di atas perbedaan metode.

Ia mengingatkan bahwa perbedaan dalam penentuan awal bulan merupakan wilayah ijtihadiyah, sehingga tidak boleh dijadikan alasan untuk memecah belah akidah. “Sebagai bangsa yang besar, kita harus bersikap dewasa. Perbedaan metode ijtihad antarormas adalah kekayaan khazanah keilmuan, bukan penyebab renggangnya ukhuwah. Jangan jadikan mimbar atau media sosial sebagai arena saling menyalahkan,” tegasnya.

Di akhir khutbah, Suli juga menyinggung pentingnya gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal. Upaya ini diharapkan dapat menyatukan sistem penanggalan Islam secara internasional demi memudahkan koordinasi ibadah umat Islam di seluruh dunia. “Idulfitri 1447 H ini harus menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Persatuan bukan berarti menyeragamkan perbedaan, melainkan kesediaan untuk tetap bersaudara dalam bingkai iman dan kebangsaan,” pungkasnya. (Muh Nurcholis)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *