Monumen Taulu Dan Lapian, Peristiwa Merah Putih Minahasa Yang Harus Dikenang

212

dutapublik com, MINAHASA – Tanggal 14 Februari ini menjadi hari hangat bagi pasangan remaja muda di dunia yang merayakan hari kasih sayang, (red_valentineday).

Namun, pada tahun 1946 di tanggal tersebut, rasa sayang terhadap pasangan masih kalah dengan rasa kecintaan terhadap Tanah Air Indonesia.

Ketika saat itu di Manado, Sulawesi Utara, terjadi sebuah peristiwa yang disebut Peristiwa Merah Putih. para pemuda pro-Republik menyerang pasukan Belanda (NICA) yang berusaha menyumbat gaung kemerdekaan di tanah Leluhur TouMinahasa.

Keberanian warga Minahasa terhadap Belanda tersebut dipicu oleh Gubernur Sulawesi, Sam Ratulangi, lewat surat rahasianya.

“Sam Ratulangi meminta tentara KNIL asal Minahasa yang proRI segera melakukan aksi milite KNIL (Sekarang Markas Pomdam XIII/Merdeka) di Teling, Manado provinsi Sulut silam.”

Diketahui surat rahasia itu lalu diserahkan pada politisi setempat Bernard Wilhelm Lapian dan Ch. Ch. Taulu yang merupakan tokoh militer.

Sejumlah tentara KNIL yang tergabung dalam Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) dan tokoh masyarakat maupun politisi Minahasa proRI langsung merancang perebutan tangsi tentara Belanda tersebut.

Oleh Peristiwa itu direalisasikan para pejuang pada tanggal 14 Februari 1946 pukul.01.00 malam.

Dari Perjuangan mereka berhasil baik diTangsi Putih dan Tangsi Hitam, Teling, Manado Sulut para pemuda sukses menawan Residen Coomans de Ruyter dan Komandan NICA Letkol de Vries beserta mereka yang pro-NICA.

Selain menawan pihak musuh, mereka juga membebaskan tahanan yang dicurigai pro-RI, antara lain Taulu, Wuisan, Sumanti, GAMaengkom, Kusno Dhuanohanupojo, dan GE.Duhan.

Diketahui para pejuang juga berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya dan menaikkan kembali warna merah putih ke puncak tiang bendera. ” Kejadian Berita mengenai perebutan kekuasaan itu pun langsung dikirim ke pemerintah pusat RI di Yogyakarta disertai maklumat yang ditandatangani oleh Ch. Ch. Taulu.

Dua hari setelah pemerintahan “Merah Putih” di Minahasa terbentuk di mana B.W. Lapian ditunjuk sebagai residennya.
Sementara itu, Ch. Ch. Taulu, SD. Wuisan, dan J. Kaseger menjadi pemipin satuan lokal Tentara Indonesia.

Terkait hal tersebut dari ingatan akan Peristiwa Merah Putih ini terus terjaga maka dibuatlah monumen peringatan di daerah Kawangkoan yang diresmikan pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sejak 1987 yang terletak di Kelurahan sendangan Kawangkoan depan kompleks SMA-SMP Kristen Kawangkoan.

Beberapa tahun lalu dari keluarga Ch Ch Taulu sering melaksanakan Upacara Peringatan Merah Putih dilokasi tersebut. (Effendy Iskandar)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *