Longsor Jalur Panyabungan-Natal Lumpuhkan Akses, GM GRIB Jaya Madina Kritik Pemprov Sumut

1

dutapublik.com, MADINA – Longsor kembali menutup total jalur lintas Panyabungan-Natal di titik Bulu Soma, Kecamatan Batang Natal, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Akses vital penghubung pesisir barat Mandailing Natal pun lumpuh total.

Akibatnya, aktivitas masyarakat terhenti, distribusi barang terganggu, serta akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan ikut terhambat.

Kondisi ini menjadi sorotan serius karena dinilai bukan kejadian insidental, melainkan pola berulang yang telah lama terjadi tanpa penyelesaian konkret. Jalur tersebut sejak lama dikenal sebagai titik rawan longsor, namun hingga saat ini belum terlihat adanya langkah strategis, permanen, dan terukur dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Di tengah situasi darurat, masyarakat kembali dipaksa mengandalkan kemampuan sendiri. Respons cepat dinilai belum optimal, ketersediaan alat berat terbatas, serta belum ada kejelasan terkait penanganan jangka pendek maupun jangka panjang.

Sekretaris Generasi Muda GRIB Jaya Kabupaten Mandailing Natal, Alfin Sahani, menegaskan bahwa peristiwa ini tidak bisa lagi dipandang semata sebagai bencana alam, melainkan cerminan kegagalan tata kelola infrastruktur. “Setiap tahun, setiap hujan deras, titik ini kembali lumpuh. Ini bukan kejadian baru, melainkan kegagalan yang terus berulang. Ketika pemerintah mengetahui titik rawan, tetapi tidak melakukan langkah pencegahan yang serius, maka ini bukan sekadar kelalaian, melainkan pembiaran yang sistematis,” tegasnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan perhatian pembangunan di wilayah pesisir barat Mandailing Natal. “Masyarakat tidak membutuhkan janji atau sekadar narasi pembangunan. Mereka membutuhkan akses jalan yang layak. Ketika jalur utama terus lumpuh tanpa solusi, hal ini menunjukkan adanya wilayah yang belum menjadi prioritas,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Generasi Muda GRIB Jaya menilai bahwa lambannya respons serta belum adanya solusi permanen berpotensi memperparah dampak sosial dan ekonomi masyarakat. Aktivitas perdagangan terganggu, harga kebutuhan pokok berpotensi meningkat, dan mobilitas warga menjadi terbatas.

Peristiwa ini sekaligus menegaskan bahwa persoalan infrastruktur di jalur Panyabungan-Natal bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan menyangkut keberpihakan dan keseriusan pemerintah dalam menjamin hak dasar masyarakat atas akses dan konektivitas.

Generasi Muda GRIB Jaya Kabupaten Mandailing Natal menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh terus dinormalisasi sebagai “risiko alam”, sementara akar persoalan dan tanggung jawab penanganannya tidak ditangani secara jelas. (S.N)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *