Ketua YPPKM Desak Tim Auditor Dan BPK Segera Audit PT. AUTJ

535

dutapublik.com, TANGGAMUS – Ketua Yayasan Penelitian Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat (YPPKM) Adi Putra Amril Darusamin, S.H., menanggapi permasalahan PT. Aneka Usaha Tanggamus Jaya (PT. AUTJ) diambang kehancuran dikarenakan manajemen yang buruk.

“Saya melihat dan menganalisa bahwa terjadi kebobrokan dalam manajemen. PT. AUTJ yang memiliki unit usaha yang sebenarnya sangat bagus dan bisa dibilang sangat sedikit sekali mengalami kerugian apabila benar-benar dikelola dengan baik dan benar,” ujar Adi Putra, pada Sabtu (15/1).

Menurutnya, seperti SPBU sebagai salah satu unit usaha PT. AUTJ tidak mungkin mengalami kerugian kalau tata kelolanya benar.

“Coba kita ingat perkataan menteriĀ  BUMN beberapa bulan yang lalu mengatakan, bentuk usaha SPBU sangat kecil mengalami kerugian. Karena usaha tersebut sudah pasti incomenya, karena memiliki market yang jelas,” terangnya.

Lanjut Adi Putra, mendengar penjelasan dari hasil hearingĀ  pimpinan DPRD Tanggamus dengan pihak PT. AUTJ, baginya itu merupakan obrolan atau pertemuan yang sia-sia seperti obrolan di warung kopi. PT. AUTJ dalam haearing resmi seharusnya membawa laporan tertulis tentang keuangan khususnya cashflow perusahaan, akan tetapi kenyataannya Imron Saleh datang hanya menyampaikan laporan secara verbal.

“Menurut saya Imron Saleh tidak menghargai institusi DPRD dengan sikap yang tidak profesional sebagai dirut BUMD. Kita ilustrasikan masalah Sirkulasi keuangan SPBU, kalau memang benar pernyataan Imron Saleh bahwa SPBU kita mendapatkan jatah 8 KL/8 ton setiap jenis BBM yang dijual,” ujarnya.

Dijelaskannya, SPBU mempunyai keuntungan Rp500-Rp750/liter, anggap lah keuntungan kotor kita Rp500/liter dikalikan 8000 liter maka omzet satu jenis BBM yang dijual adalah Rp4.000.000, setiap kali isi BBM dari tanki Pertamina. Satu SPBU setidaknya menjual 6 jenis BBM maka total omzetnya Rp24.000.000/drop kuota dari Pertamina, apabila 1 bulan SPBU di drop 15 kali maka total omzetnya Rp360.000.000 dalam satu bulan.

“Total omzet dikurangi gaji karyawan dan sebagainya, hitungan saya setidaknya SPBU bisa untung 160-260 juta setiap bulan. Hal itu terjadi apabila manajemennya benar-benar dikelola dengan baik dan benar,” sebutnya.

Untuk unit usaha, lanjut Adi Putra, pengelolaan dan pengemasan air mineral juga sangat menguntungkan secara bisnis, sudah tepat PT. AUTJ bermain di ranah pengelolaan dan pengemasan air mineral.

“Kita lihat sejarah PT. Tirta Investama (Aqua) modal awal mereka setahu saya sekitar 1-2 milyar. Mereka dari industri kecil dalam waktu 5 tahun berkembang pesat. Bahkan omzet mereka di 5 tahun awal mencapai puluhan bahkan ratusan milyar. Masih banyak contoh perusahaan yang bergerak di pengelolaan dan pengemasan air mineral.”

“Tanggamus memiliki sumber mata air yang sangat banyak, bahkan menurut saya mata air/sumber air yang kualitasnya sangat bagus. Seharusnya PT. AUTJ diuntungkan dalam hal ini, mereka tidak perlu banyak menguras APBD untuk membeli lahan yang memiliki sumber mata air,” urainya.

Ditambahkannya, PT. AUTJ hanya membeli alat-alat, seperti mesin penyedot air, filter/saringan, tempat penampungan, tempat pengemasan dan alat pengemasan.

“Setiap air kemasan isi 250 ml/gelas, kita hanya mengeluarkan biaya produksi sekitar 200-300 rupiah pergelas. Kalau kita jual ke pedagang dengan harga Rp17.000 perkarton maka keuntungan kita Rp2.500 perkarton. Apabila kita menjual dalam bentuk ukuran lebih besar maka keuntungan kita akan besar pula.”

“Kasus PT. AUTJ saya mengatakan unit usahanya yang bergerak di bidang pengelolaan dan pengemasan air mineral mengalami kerugian, hal tersebut sangat lucu. Itu sebagai bukti bahwa jajaran Direksi benar-benar tidak kapabel dan tidak layak memimpin perusahaan PT. AUTJ,” imbuhnya.

Dirinya menyarankan, pihak DPRD dan BPK seharusnya melakukan audit secara menyeluruh.

“Indikasi saya terjadi penyalahgunaan wewenang dalam menjalankan PT. AUTJ di internal manajemen. Audit juga harus melibatkan tim auditor swasta yang bekerja sama dengan BPK agar lebih menyeluruh serta obyektif,” pungkasnya. (Sarip)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *