dutapublik.com, KARAWANG – Tersinggung masalah Ras, ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat Sunda yang ada di Kabupaten Karawang melakukan konvoi menggunakan kendaraan roda dua dan empat sambil membentangkan spanduk serta pengeras suara untuk melakukan aksi demo ke gedung DPRD Karawang, pada Jumat (21/1) pukul 13.00 WIB. Massa menuntut Arteria Dahlan agar dicopot dari jabatannya sebagai anggota DPR RI karena sudah menyinggung masalah Rasis Suku Sunda.
Aksi ribuan masyarakat Sunda Karawang itu terkait atas adanya pernyataan dari anggota DPR RI dari partai PDI Perjuangan, Arteria Dahlan beberapa waktu lalu di gedung DPR RI saat melakukan hearing bersama Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
Kasus itu bermula dari kritik yang disampaikan Arteria dalam rapat kerja Komisi III DPR RI dengan Kejaksaan Agung pada Senin (17/1) lalu.
Dalam kesempatan tersebut, anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin mencopot seorang Kajati yang bicara menggunakan bahasa Sunda dalam sebuah rapat.
“Ada kritik sedikit Pak JA (Jaksa Agung), ada Kajati, Pak, dalam rapat, dalam raker (rapat kerja) itu ngomong pakai bahasa Sunda. Ganti, Pak, itu,” pinta Arteria saat itu.
Tidak jelas siapa Kajati yang Arteria maksud. Namun, menurut dia, dalam memimpin rapat seorang Kajati harus menggunakan bahasa Indonesia agar tak terjadi salah persepsi dari orang yang mendengarnya.
“Kita ini Indonesia, Pak. Nanti orang takut, kalau pakai bahasa Sunda ini orang takut, ngomong apa. Kami mohon yang seperti ini dilakukan tindakan tegas,” ujar Arteria lagi.
Banjir kritik dan tuntutan minta maaf terhadap Arteria ini pun seketika menyeruak dari masyarakat, terutama dari masyarakat Sunda di seluruh Nusantara.
Bahkan, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang biasa disapa Kang Emil pun, mendorong Arteria untuk meminta maaf ke masyarakat Sunda.
Sebab menurut Kang Emil, pernyataan Arteria bisa menimbulkan persoalan di kemudian hari.
“Jadi saya mengimbau Pak Arteria Dahlan sebaiknya meminta maaf kepada masyarakat Sunda di Nusantara ini. Kalau tidak dilakukan, pasti akan bereskalasi,” kata Kang Emil.
“Sebenarnya orang Sunda itu pemaaf ya, jadi saya berharap itu dilakukan,” tambah Kang Emil. (bunsal)






