dutapublik.com, JAKARTA – Kecewa atas penanganan kasus Indosurya yang dianggap tidak profesional, LQ Indonesia Lawfirm melaporkan Direktur Tipideksus baik yang lama maupun yang baru, yakni Brigjen Pol Helmi Santika dan Brigjen Pol Whisnu Hermawan serta Kanit AKBP Suprihatiyanto ke Yanduan Propam dengan nomor laporan #SPSP2/1927/III/2022/BAGYANDUAN Tanggal 30 Maret 2022.
Pelaporan dugaan pelanggaran etik didasarkan atas beberapa faktor,
Pertama, penanganan kasus Indosurya yang tidak proporsional dan tidak profesional.
“Tidak adanya equality before the law, di mana Whisnu dalam kasus Indra Kenz dalam pers release diborgol. Sedangkan, Henry Surya tidak diborgol. Lalu dalam kasus Indra Kenz, Pacar dan Orang tua diperiksa sedangkan kasud Indosurya Bapak dan Istri serta Ipar Henry Surya tidak diperiksa,” ujar Advokat Alvin Lim, selaku ketua pengurus LQ Indonesia Lawfirm, dalam press release pada Rabu (30/3).
Kedua, dugaan hilangnya aset sitaan seperti kapal pesiar yang ditaksir senilai 200 Milyar yang mana diduga penyitaan tidak dilakukan secara maksimal. Ketiga, P19 Kejaksaan menunjukkan kejanggalan dengan tidak adanya tandatangan Suwito Ayub dalam berita acara.
“Bagaimana seorang tersangka tidak menandatangani berita acara, pemeriksaannya serius atau main-main? Belum lagi tersangka Suwito Ayub yang kabur menambah daftar dugaan ketidakseriusan Penyidik menangani kasus Indosurya,” ujar Alvin Lim yang terkenal berani melawan Oknum Polri.
Dikatakan Alvin Lim, pihaknya membuat aduan Propam tersebut, untuk melihat apakah benar Polri mau dan berani benah-benah atau cuma sekedar omong kosong dan janji sampah saja?
“LQ berikan bukti-bukti pendukung untuk aduan Propam, apa Kadiv Propam bintang dua berani periksa bintang satu? Adakah jeruk makan jeruk, mari masyarakat lihat dan pantau,”
“Kepala negara di mana? Jelas Kapolri tidak sanggup menjalankan institusi Kepolisian yang profesional, transparansi dan berkeadilan, sistem kepolisian tidak berjalan efektif karena oknum merajalela dan menyengsarakan masyarakat. Jika Presiden tidak benahi maka kegagalan Institusi Polri akan menjadi kegagalan pemerintah. Negara kritis butuh kepemimpinan Presiden Jokowi, segera Audit dan periksa penanganan kasus Indosurya agar transparan dan terang benderang,” kata Alvin Lim dengan raut kecewa.
Erica, salah satu korban Indosurya yang kecewa dengan Kanit dan Penyidik Tipideksus juga protes dengan tindakan Mabes Polri yang mengancam korban Indosurya dan malah membela Tersangka Henry Surya.
“Sini kalian keluarkan Pistol dan tembak saya. Saya serahkan nyawa saya kepada kalian,” ucap Erika kepada Penyidik Mabes Polri yang mengintimidasi Korban yang minta keadilan dan transparansi atas penanganan kasus Indosurya yang dilaporkannya di ruangan Dittipideksus, Lantai 5 Mabes Polri.
Erica yang menghubungi LQ Indonesia Lawfirm dan meminta bantuan untuk mendapatkan keadilan ke Hotline LQ di 0817-489-0999, mengeluarkan uneg-unegnya.
“Bu Erica ini patut di bantu pemerintah, selain uangnya hilang di tipu, anaknya sakit dan adiknya Bunuh diri minum Pestisida, akibat putus asa hilangnya seluruh tabungan keluarga mereka. Presiden Jokowi dan DPR para wakil rakyat kemana di saat rakyat menderita dan oknum Polri merajalela, apakah takut mewakili rakyat dan memberikan keadilan dan bantuan?,” tegas Alvin Lim. (E. Bule)





