dutapublik.com, CIANJUR – Kondisi Pasca Gempa Bumi yang terjadi di Kabupaten Cianjur menyisakan duka yang mendalam, sisa-sisa puing akibat gempa telah menghancurkan rumah, sekolah serta tempat peribadatan.
Sekarang Pemerintahan dihadapkan dengan berbagai macam masalah yang ditimbulkan akibat gempa seperti persoalan pendidikan dimana anak-anak didik harus menghadapi kondisi belajar yang terpaksa harus belajar di tenda-tenda darurat.
Namun hal tersebut menurut Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (DISDIKPORA) Kabupaten Cianjur Akib Ibrahim kepada dutapublik saat ditemui diruang kerjanya kemarin (3/2) menjelaskan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) bidang Pendidikan itu berbicara data bukan kepada mutu pendidikan.
Data IPM itu diukur dari Pendidikan, yang dihitung dari angka harapan sekolah dan angka rata-rata lama sekolah. Untuk rata-rata lama sekolah (RRLS) itu diukur dari usia masyarakat yang berusia 25 tahun keatas sedangkan untuk angka harapan sekolah berusia 7 tahun keatas sampai 25 tahun itu lama sekolahnya.
“Semakin banyak orang bersekolah semakin datanya naik. Nah untuk sekolah dasar kan mengukurnya itu di APK dan APM, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik APK kita sudah di angka 107 kemaren itu artinya sudah 100 % kemudian APM nya baru 98.98 berarti sudah hampir 100 %. usia tingkat dasar hampir semuanya masuk tingkat Pendidikan dasar. Itu untuk tingkat SD, ” ujar kadisdikpora.
Kadis pun menegaskan kembali bahwa naiknya IPM bukan dari mutu sekolah tapi berbicara bagaimana lama sekolah. (Yani).


