Akibat Kebijakan Regrouping Sekolah, KBM Di SDN Gesikan Terhambat Dan Peserta Didik Diterlantarkan

321

dutapublik.cim, PURWIREJO – Kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo (Diknas) dengan menggabung (regrouping) sekolah dan memutasi tenaga pendidik dan peserta didik SDN Gerakan Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo berakibat pada peserta didik (siswa) SDN Gesikan tidak bisa belajar dan menjadi korban kebijakan pemerintah daerah, sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) terhambat karena tidak ada gurunya yang terkesan ditelantarkan.

Tercatat ada sekitar 39 Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Purworejo yang akan diregroping di mana salah satunya adalah SDN Gesikan di Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

Orang tua wali, peserta didik SDN Gesikan merasa sangat kecewa dengan adanya keputusan regrouping sekolah dasar negeri yang terjadi di SDN Gesikan.

Peserta didik SDN Gesikan korban regrouping dan mutasi guru-gurunya kini terkatung- katung dan tidak menerima kegiatan belajar mengajar (KBM) sebagaimana mestinya.

Di SDN Gesikan yang jumlah muridnya ada 66 orang anak hampir mayoritas belum mau dipindahkan ke sekolah lain. Alangkah malangnya peserta didik (siswa) ditinggalkan begitu saja tanpa ada perhatian dari Dinas Pendidikan ataupun guru.

Murid SDN Gesikan ditinggalkan guru-gurunya karena dipindahtugaskan  ke sekolah lain. Akibatnya siswanya kini terlantar dan orang tuanya meradang dengan menggelar aksi demo, karena anaknya tidak bisa belajar akibat sekolah ditutup dan ditinggal mutasi guru-gurunya,

Setelah tanggal 31 Agustus lalu tidak ada pembelajaran karena tidak ada gurunya, mereka terlantar dan tiap hari masuk sekolah hanya diawasi penjaga sekolah dan ibu kepala desa.

“Kalau memang tidak ada pembelajaran, dan anak kami mau diterlantarkan, terus di mana rasa tanggung jawab pemerintah kepada kami,” ucap Titik Lestari salah seorang wali siswa.

Warga beserta wali siswa menilai Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo tanpa perhitungan yang matang dan perencanaan yang tepat, langsung memutasi dan meregrouping sekolah. Sehingga berakibat siswa SDN Gesikan terlantar karena tidak ada tenaga pengajar di sana.

“Ini salah, Diknas asal-asalan aja dalam menentukan kebijaksanan regrouping tanpa perhitungan terlebih dahulu. Pokoknya regrouping dan asal pindah guru saja,” ujar Titik. Senin (11/9).

Pihaknya bersama warga dalam waktu dekat akan mendatangi Diknas, untuk mempertanyakan kebijakan regrouping yang justru menyengsarakan siswanya.

‘’Jika memang suasana semakin tidak baik kami minta guru-guru tersebut dikembalikan agar kegiatan sekolah kembali normal sebagaimana biasanya,’’ pungkasnya. (AJ)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *