Carut Marut Pekon Antar Brak, Viendra Sari Diduga Kirim Utusan Tuding Suratjio Intimidasi Slamet

870

dutapublik.com, TANGGAMUS – Lagi lagi Kepala Pekon Antar Brak Viendra Sari mengirimkan utusannya mendatangi Suratjio dengan membawa oleh-oleh rolok dan meminta kepada Suratjio untuk berhenti dengan berdalih malu kalau permasalahan di Pekon Antar Brak diketahui oleh pihak luar dan diselesaikan dengan cara baik-baik.

Kali ini Viendra Sari diduga mengutus Tanto menuding Suratjio sudah mengintimidasi Slamet agar Slamet menyampaikan ke publik/media terkait uang Rp3 juta yang di minta Viendra Sari dengan iming-iming akan dijadikan perangkat Pekon.

Saat dihubungi olehdutapublik.com via telepon, Suratjio mejelaskan memang benar semalam Tanto datang mungkin sekaku utusan dari Kepala Pekon. Tanto datang membawak rokok satu bungkus, dia menyampaikan kepada Suratjio pernyataan Slamet bahwa Slamet merasa diintimadisi Suratjio. “Pak Slamet dan Pak Slamet merasa dibohongi karena dipanggil ke rumah suruh ngambil bibit Pala gak taunya disuruh bikin laporan ke media itu isi yang di sampaikan pak Tanto,” ucap Suratjio menirukan apa yang disampaikan Tanto yang diduga sebagai utusan Viendra Sari pada Minggu (12/12).

Lanjut Suratjio memang bibit pala itu ada dan Slamet itu memang meminta bibit pala karena ia disini adalah Ketua Gapoktan. “Kita ngobrol diluar substansi tapi Pak Slamet nyanyi sendiri terkait uang tiga juta yang diberikannya ke Kakon Viendra, waktu itu saksi ada kok kebetulan teman banyak dan dicandain lah sama teman bahasanya teman itu guyon,” ungkap Suratjio.

“Kamu bilang kaya gitu kalau di ekspos media berani gak, Pak Slamet jawabnya kenapa gak berani itu jawabnya Pak Slamet. Yang jadi pertanyaan saya dari sisi mana kok Pak Slamet bilang sama Pak Tanto saya intimidasi dia karena jawabnya pak Slamet berani saya hubungilah Mas Heru,” jelasnya.

“Lalu obrolan nya Pak Slamet dengan Mas Heru itu ya saya sendiri gak tau saat mereka ngobrol itu kan via telepon saya tinggal kebelakang saya juga gak dengar apa yang disampaikan pak Slamet sama Mas Heru kok ada bahasanya saya intimidasi,” terang Suratjio.

Kata Suratjio, intinya Tanto diduga utusan Viendra datang ke rumah bawa Rokok. Menurutnya itu langkah Tanto itu merupakan gertakan, soalnya akhir- akhirnya Tanto memohon kepadanya agar masalah ini jangan sampai merembet ke pihak luar.

Lalu Suratjio menjawab ajakan Tanto dengan menerangkan masalah ini tidak mungkin terjadi hingga separah ini kalau semua berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. ‘Saya juga gak pernah mengada-ada kok, lagi pula saya juga tidak terprovokasi dengan siapa pun yang punya masalah dengan Viendra,” jelansya.

“Saya hanya memperjuangkan atas hak masyarakat yang menurut saya masih samar-samar sehingga masyarakat belum memahami sementara saya menunggu beberapa orang yang saya anggap berkompeten di pemerintahan Pekon Antar Brak ini yang katanya mau memediasi antara pihak pemerintah Pekon dan masyarakat tapi sampai hari ini tidak ada realisasinya terus saya mau bagaimana apa saya mau diam saja dan menunggu,” tandasnya.

Dari situlah Suratjio memanggil Dedek (mantan juru tulis Pekon Antar Brak) dan kawan-kawan lainnya lalu ia meminta pendapat dari teman yang kebetulan dekat dengannya. Para kawan-kawan Suratjio menyemangatinya dan mengatakan terus memberi suport.

“Saya kan udah pernah minta di kecamatan untuk ditunjukin berkas seperti berkas penjaringan dan pengangkatan perangkat Pekon dan berkas terkait BLT DD yang tidak dibagikan itu serta berkas penghapusan penerima BLT DD sebanyak 129 KPM itu. Saya minta tunjukin aja paling gak saya bisa melihat berkas itu dengan mata kepala saya sendiri tapi kan gak di perbolehkan. Kata orang-orang kecamatan kalau mereka menujukkan itu mereka melanggar kode etik instansi,” ungkpnya.

Lalu Suratjio mendapat infomasi yang mempunyai data itu selain pihak kecamatan dan kepala pekon, pendamping desa dan bendahara juga memegang data. “Lalu saya mendatangi bendahara cuma sebelum bendahara itu mengundurkan diri semua berkas sudah diambil semua data yang ada sama bendahara sudah diambil oleh kepala pekon cuma dalam hal ini bendahara maupun sekretaris siap kapan pun untuk membantu,” pungkasnya. (sarip)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *