dutapublik.com, BANDUNG BARAT – Meskipun pemerintah belum membuka secara resmi pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk pengguna perseorangan atau sebagai pembantu rumah tangga ke 19 negara Timur Tengah, namun kenyataannya masih banyak yang lolos dan menabrak aturan Kepmenaker nomor 260 Tahun 2015 sehingga tetap bisa memberangkatkan ke negara Timur Tengah.
Entah bagaimana ceritanya, yang jelas pengiriman PMI ke Timur Tengah terus berlangsung bahkan kian hari semakin bertambah jumlahnya.
Dengan berbagai macam problematika yang dialami para pahlawan devisa, mulai dari pemberangkatan, kelengkapan dokumen, tidak adanya pelatihan kerja maupun penguasaan bahasa. Juga setelah sampai di negara tempatan berbagai persoalan pun muncul, mulai dari gaji yang tidak sesuai, keterlambatan pembayaran gaji bahkan ada yang tidak menerima gaji, tidak adanya layanan kesehatan dan asuransi.
Selain itu banyak pula PMI yang mengalami tindakan kekerasan, penyiksaan dan kekerasan seksual hingga mengandung dan melahirkan anak tanpa tanggung jawab yang jelas dari terduga pelaku ataupun pihak pemeroses. Seakan-akan semuanya luput dari jeratan hukum. Semua kisah pilu yang mengiris hati itu dialami oleh sebaagian besar PMI yang mempunyai julukan sang pahlawan devisa.
Sebagaimana curahan AY seorang purna PMI asal Cianjur Jawa Barat yang baru sepekan lalu pulang dari negara Saudi Arabia, saat menyambangi posko dutapublik.com di Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat, ia menceritakan pengalamannya dari mulai dirinya diberangkatkan secara non prosedural, juga selama dirinya bekerja di negara tempatan Saudi Arabia, dimana ia tinggal di sebuah syarikah ALMA.
“Situasi di syarikah sangat mencekam, apa yang dijanjikan di sini dari PT dan sponsor tidak sesuai tentang gaji, pelayanan kantor, supervisor, terus juga majikan muskilah semua, ” ungkap AR. jumat (11/2).
Diceritakan AY bahwa Ia pertama kali kerja ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga yang diberangkatkan secara non prosedural tanpa melalui pelatihan keterampilan kerja dan penguasaan bahasa.
“Saya baru pertama kali kerja ke luar negeri, dimana sebelum pemberangkatan tidak ada pelatihan kerja ataupun keterampilan dan bahasa,” ucapnya.
Ia berharap agar para PMI yang masih berada di syarikah ALMA di Saudi Arabia yang kondisinya sedang sakit dan tidak bisa kerja, juga yang mengalami tindakan kurang manusiawi agar segera bisa dipulangkan.
“Saya harap teman-teman saya semua yang ada di syarikah yang sedang sakit, yang kena pelecehan seksual, penyiksaan dan sebagainya dapat dipulangkn secepatnya, ” harapnya.
Lebih lanjut ia pun menyampaikan harapannya agar ada perbaikan dalam berbagai hal antara lain perlakuan, gaji, konsumsi yang layak, layanan kesehatan dan asuransi.
“Saya mau pelayanan yang baik mengenai gaji, konsumsi yang layak, juga layanan kesehatan. Semenjak saya kerja di sana, saya minum air dari kran, pelayanan berobat gak ada, kita ke rumah sakit pakai uang sendiri, gak ada asuransi, pokoknya gak ada jaminan apa-apa. Kita sakit saja harus tetap kerja dan tidak boleh menolak, ” tuturnya.
”Saya merasa tidak dimanusiakan, saya harap syarikah bisa memanusiakakn TKW Indonesia, soalnya teman-teman juga banyak yang ingin pulang, tetapi tidak bisa karena takut penyiksaan. Bahkan ada seorang temen orang Garut yang dipukul disiksa sampai bengkak. Singkatnya Jangan samapai diperbudak, ” tutur AY.
Di akhir penuturannya, ia pun mengucapkan terimakasih kepada dutapublik.com yang telah membantu proses kepulangannya.
“Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada tim dutapublik.com. Saya sekarang sudah pulang dengan sehat dan selamat, saya dibantu banyak oleh tim dutapublik.com atas kepulangan saya, kepada teman-teman saya yang masih berada di grup posko pengaduan dutapublik.com kalian bersabar sedang diproses oleh tim dutapublik.com,” pungkasnya. (Tim).


