dutapublik.com, SULUT – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, bersama Kapolda Sulut, Irjen Pol Roycke Harry Langie, menghadiri Selebrasi Paskah Remaja Sinode GMIM Tahun 2025 untuk Wilayah Manado Utara I dan III yang digelar di Lapangan Paving Boulevard Sindulang, Kota Manado, Sabtu (26/4/2025).
Gubernur Yulius memberikan apresiasi tinggi kepada para remaja atas semangat dan keteladanan yang mereka tunjukkan dalam perayaan iman tersebut.
Dalam sambutannya, Gubernur Yulius Selvanus menyampaikan rasa salut dan hormat atas antusiasme remaja GMIM yang dengan sukacita mengikuti selebrasi pawai Paskah.
Ia menegaskan bahwa semangat tersebut mencerminkan iman yang hidup kepada Yesus Kristus, yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan umat manusia.
“Sukacita dan semangat ini menandakan kalian adalah anak-anak Yesus. Melalui semangat Paskah, kita dipanggil untuk menjadi contoh dan teladan sebagai umat Kristus,” ungkap Gubernur Yulius dengan penuh haru.
Gubernur juga menyoroti pentingnya peran pembinaan rohani bagi remaja gereja. Ia mengapresiasi upaya para pembina yang telah membekali adik-adik remaja melalui pelayanan ibadah, serta mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga, merawat, mengarahkan, dan saling mengingatkan satu sama lain dalam hidup beriman.
“Sebagai Gubernur, saya merasa bahagia melihat bagaimana kegiatan ini menjadi contoh bagi banyak orang. Mari terus hidup dalam Kristus dan menjadi terang bagi sesama,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Yulius juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan acara, terutama kepada Pendeta Richard Mengko yang memimpin Ibadah Agung, Ketua KPRS Michaela Paruntu bersama anggota komisi, serta Wakil Wali Kota Manado, Pnt. Richard Sualang, selaku Ketua Umum Panitia Selebrasi.
Selebrasi Paskah Remaja GMIM Tahun 2025 ini tidak hanya mempererat iman generasi muda GMIM, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk membangun karakter anak bangsa berlandaskan kasih Kristus.
Pemerintah Provinsi Sulut berharap tradisi ini terus dilestarikan dan dikembangkan demi membentuk remaja yang kuat secara spiritual, sosial, dan nasionalisme.
(Effendy)


