Jelajahi Colombo, Sebuah Persinggahan Dede Farhan Aulawi Sebelum Kembali Ke Tanah Air

738

dutapublik.com, JAKARTA – Sebelum pulang ke Indonesia, Dede Farhan Aulawi terlebih dahulu singgah di Colombo, ibu kota Sri Lanka, untuk bertemu dengan beberapa kolega di bidang pertahanan dan keamanan. Penerbangan dari Dhaka, Bangladesh, ke Colombo, Sri Lanka, memakan waktu sekitar 3 jam 20 menit. Setibanya di Bandara Internasional Bandaranaike (CMB), bandara utama Sri Lanka yang terletak di pinggiran kota Negombo, ia langsung merasakan perbedaan atmosfer antara Colombo dan kota sebelumnya.

Jika sebelumnya telah membayangkan kesemrawutan dan hiruk-pikuk seperti di Dhaka, ternyata Colombo jauh lebih tertata dan relatif bersih, meskipun tetap berdebu akibat cuaca yang panas—bahkan lebih panas dibanding Jakarta. Masyarakatnya pun cukup tertib dalam berlalu lintas. Hal ini terlihat ketika hendak menyeberang jalan. Meskipun lampu hijau untuk pejalan kaki belum menyala, setiap kali ada orang yang berdiri di tepi jalan dan hendak menyeberang di zebra cross, para pengendara mobil dan motor dengan sigap menghentikan kendaraan mereka untuk memberi kesempatan kepada pejalan kaki.

Penduduk Sri Lanka terdiri atas berbagai suku, di antaranya Sinhalese (kelompok etnis terbesar yang berasal dari India Utara), Tamil India, Arab, Melayu, Vedda (penduduk asli Sri Lanka), dan lain sebagainya. Mayoritas penduduknya (sekitar 69%) menganut agama Buddha Mahayana. Untuk mengenal lebih jauh tentang Colombo, berjalan kaki menelusuri sudut-sudut kota menjadi cara terbaik. Salah satu tujuan utama adalah pasar tradisional, yang mencerminkan suasana asli kehidupan masyarakat setempat. Dibanding pusat perbelanjaan modern seperti mal, yang tampak serupa dengan kota-kota lain di dunia, pasar tradisional lebih menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Tangalia Market, pasar basah terbesar di Colombo. Menariknya, sayuran dan buah-buahan yang dijual di sana tak jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia.

Saat berkeliling, ada satu makanan khas yang patut dicoba, yaitu Lamprais. Hidangan ini mirip dengan nasi timbel, karena dibungkus dengan daun pisang. Namun, penyajiannya menyerupai nasi bakar, di mana seluruh lauk-pauk dimasukkan dalam satu bungkusan sebelum dipanggang. Nama Lamprais sendiri berasal dari lump rice (bungkusan nasi) dan merupakan warisan kuliner dari etnis Dutch Burgher, yaitu keturunan campuran Sri Lanka, Belanda, dan Portugis. Hidangan ini mencerminkan sejarah panjang Sri Lanka yang pernah berada di bawah kekuasaan kolonial.

Di tengah hiruk-pikuk kota, berdiri sebuah bangunan tua berwarna merah dengan gaya arsitektur Moor yang menarik perhatian. Bangunan itu adalah Masjid Merah, masjid tertua di Colombo. Tak jauh dari sana, terdapat kuil Hindu yang megah dan berwarna-warni. Sementara itu, Gangaramaya Temple, kuil Buddha terbesar di Colombo, menampilkan arsitektur unik perpaduan budaya Sri Lanka, Thailand, India, dan Tiongkok. Kuil yang didirikan pada abad ke-19 ini dihiasi dengan patung-patung Buddha kecil yang tersusun rapi.

Sri Lanka, yang dahulu dikenal sebagai Ceylon, merupakan sebuah negara kepulauan di Asia Selatan. Negara ini bertetangga dengan India di bagian tenggara dan Maladewa (Maldives) di sebelah barat laut. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan dunia menjadikannya bagian penting dari Jalur Sutra di masa lalu. Pada tahun 1972, Sri Lanka resmi merdeka setelah sebelumnya menjadi koloni Inggris. Oleh karena itu, meskipun bahasa resmi negara ini adalah Sinhalese dan Tamil, bahasa Inggris masih banyak digunakan, terutama di kalangan terpelajar.

Perjalanan di Colombo tidak hanya menjadi persinggahan biasa, tetapi juga memberikan wawasan baru mengenai sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Sri Lanka. (Yasin Al Amin)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *