Kaesang Pangarep Dan Erina Gudono Kenakan Baju Kawasaran Minahasa Di HUT Kemerdekaan RI Ke 78

333

dutapublik.com, JAKARTA – Putra Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep dan istrinya Erina Gudono, mengenakan pakaian adat Kawasaran dari Minahasa, Sulawesi Utara, saat peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan RI, Kamis (17/08/2023).

Pakaian adat itu membawa Kaesang menjadi salah satu peserta peraih busana adat terbaik. Dia pun mendapatkan hadiah sepeda dari sang ayah.

Selain Kaesang, empat orang lain juga memenangi baju adat terbaik. Mereka adalah Raja Amarasi dengan pakaian adat NTT, Grety pakaian adat Bengkulu, Kohar pakaian adat Banyuwangi, dan Menkeu Sri Mulyani, Pakaian Adat Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.

Sebelumnya, Erina Gudono mengunggah foto bersama Kaesang Pangarep di media sosialnya, lengkap dengan penjelasan pakaian adat yang mereka gunakan.

Berikut isi postingan Erina Gudono terkait Pakaian Adat Kawasaran dari Minahasa, Sulut:

Tabea! Sigi Ne Waraney!

Kawasaran adalah tradisi leluhur Suku Minahasa Sulawesi Utara dan merupakan tarian Ksatria Minahasa yang disebut “Waraney”.

Mulanya kawasaran dilakukan untuk menjalankan ritual Mahsasau. Kawasaran “kawak”yang berarti “melindungi” dan “asaran” yang berarti “sama atau berlaku seperti” artinya, Kawasaran menjadi sama seperti leluhur di masa lalu, menjadi pelindung tanah, pelindung negeri, pelindung kehidupan.

Bagian dasar baju adalah kayu alam yang diikat dengan kain tenun pampele dan dipadu-padankan dengan kain tenun kaiwu patola. Tata busana dan aksesoris dibuat mengacu pada sustainable fashion dan tidak menggunakan materi hewan asli.

“Kami memakai baju kawasaran sebagai lambang penghormatan kami kepada para WARANEY (ksatria) bangsa yang telah berjuang melawan penjajah. “Kami nyalakan jiwa muda ksatria WARANEY untuk melanjutkan perjuangan memajukan bangsa.” Tulisnya

Diketahui Tiga simbol utama Kawasaran meliputi :

1. “gegenang” (ingatan) disimbolisasikan dengan porong di bagian kepala menggunakan bulu ayam jago dan kepala burung uak. Dimaknai sebagai melakukan kebaikan.

2.”pemenden” (perasaan) disimbolkan dengan “karai” berupa kulit kayu dan kalung, baik kelana (dari manik-manik), dari taring babi rusa, ataupun kalung dari perunggu. Maknanya manusia harus selalu menimbang dengan perasaan tetapi jangan berlebihan.

3. “keketez” (kekuatan) disimbolkan dengan ikatan-ikatan di tangan, di kaki dan pinggang. Ikatan yang telah didoakan ke Sang Khalik dan dipercaya bisa memberi kekuatan.

Atribut penting lain yang biasa digunakan adalah “santi” (pedang) sebagai simbol pembuka jalan kehidupan, pemelihara kehidupan dan pelindung kehidupan itu. Tengkorak merupakan simbol pemburu.

Dalam tarian ini sering diteriakkan “I Yayat U Santi” yang berarti angkat pedang dan mainkan (acung-acungkan). Maknanya penyemangat menghadapi tantangan kehidupan.

I Yayat U Santi! (EffendyV.Iskandar)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *