Program TMMD Brebes Pasang Listrik Mandiri Untuk Mbah Castem, Nayla Kini Bisa Belajar Lebih Nyaman

39

dutapublik.com, BREBES – Matahari belum sepenuhnya tenggelam di ufuk barat. Cahaya kemerahan masih menembus rerimbunan pohon dan menyelinap di antara tirai jendela rumah sederhana milik Mbah Castem (60), warga Desa Cikuya, Kabupaten Brebes. Senja merayap pelan seperti biasa, membawa bayangan panjang di dinding papan rumahnya. Namun sore itu terasa berbeda.

Di ruang tamu yang tidak begitu luas, sebuah lampu LED putih kini menggantung rapi di langit-langit. Kabel terpasang dengan baik, sakelar menempel di dinding. Tinggal satu sentuhan untuk mengubah segalanya.

Mbah Castem tampak begitu bahagia. Wajahnya cerah dengan senyum yang mengembang sempurna. Matanya tak lepas menatap lampu baru itu, seolah tak sabar menekan sakelar di dinding. Hari itu menjadi awal ia memiliki sambungan listrik sendiri.

Selama bertahun-tahun, ia hanya menumpang listrik dari tetangga. Ia tak bebas menyalakan lampu dan tak leluasa menggunakan peralatan elektronik. Setiap pemakaian terasa seperti beban. Setiap sakelar yang ditekan selalu disertai rasa sungkan.

Kini, untuk pertama kalinya, ia tak perlu lagi menunggu izin atau merasa tidak enak hati.

“Sudah lama saya ingin punya listrik sendiri. Selama ini cuma menumpang ke tetangga, jadi tidak enak hati kalau terlalu banyak menyalakan lampu dan peralatan elektronik,” ujar Mbah Castem dengan mata berkaca-kaca.

Menurutnya, memiliki sambungan listrik mandiri bukan hanya soal terang, tetapi juga soal kenyamanan dan harga diri.

“Kadang kalau cucu saya masih belajar, saya sudah kepikiran takut merepotkan. Mau pakai alat listrik juga jadi tidak bebas. Rasanya seperti bukan rumah sendiri,” lanjutnya pelan.

Program pemasangan KWh listrik melalui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-127 Kodim 0713/Brebes akhirnya sampai di rumahnya. Bagi orang lain, mungkin ini sekadar instalasi listrik. Namun bagi Mbah Castem, ini adalah kemerdekaan kecil yang sangat berarti.

Di sudut ruangan, cucunya, Nayla (11), duduk dengan buku pelajaran terbuka di pangkuannya. Selama ini, ia terbiasa belajar dengan penerangan seadanya. Sering kali waktu belajarnya terpotong karena cahaya tidak lagi cukup membantu matanya membaca.

Mbah Castem kembali memandang lampu itu. Tangannya perlahan mendekati sakelar.

Klik.

Cahaya putih langsung menyebar memenuhi ruang tamu. Tidak redup, tidak temaram. Terang dan pasti.

Senyumnya semakin lebar. Di rumah sederhana itu, malam tak lagi identik dengan gelap yang membatasi. Kini, cahaya hadir sebagai tanda awal kehidupan yang lebih leluasa.

“Sekarang saya senang sekali. Alhamdulillah, rumah sudah terang. Cucuku bisa belajar lebih nyaman, saya juga tidak perlu menyusahkan tetangga lagi. Terima kasih, akhirnya keinginan saya terkabul,” tuturnya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Bagi Mbah Castem, mungkin ini hanya satu lampu. Namun bagi masa depan Nayla, itu bisa berarti waktu belajar yang lebih panjang, mimpi yang lebih tinggi, dan harapan yang tak lagi diburu gelap.

Serka Feri Wida Primawan, Babinsa Koramil 14/Banjarharjo, yang datang memantau pemasangan tersebut, turut menyaksikan kebahagiaan nenek dan cucu itu.

“Ini bukan hanya soal listrik menyala. Ini soal memberi mereka kemandirian dan kesempatan. Anak-anak bisa belajar lebih nyaman, keluarga bisa beraktivitas tanpa bergantung pada orang lain,” ujarnya. (Yasin Al Amin)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *