dutapublik.com, TANGGAMUS – Di Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Tanggamus diduga ada oknum janjikan bantuan alat pertanian dengan meminta sejumlah uang mencapai jutaan rupiah.
Pasalnya pada tahun lalu salah satu Ketua Kelompok Tani di Kabupaten Tanggamus mengajukan Proposal dengan harapan mendapatkan batuan alat pertanian guna mempermudah kelompok tersebut dalam menjalankan aktifitas mereka.
Namun pada saat proposal diajukan ke Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Tanggamus, sang Ketua Kelompok Tani tersebut dijanjikan akan mendapat dua alat pertanian asalkan mau memberi uang supaya bantuan yang ia ajukan mendapat stimulus atau diprioritaskan , tapi anehnya lagi bantuan yang ia harapkan tak kunjung direalisasikan.
Merasa dikecilkan oleh Oknum yang bekerja di Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura Tanggamus ia pun menceritakan perihal yang dialami pada awak media dutapublik.com, pada Jumat (29/12/2023).
“Saya sudah berkali kali menanyakan pada orang orang tersebut tapi setiap kali saya tanya jawaban mereka hanya nanti nanti masih kita upayakan itu yang mereka sampaikan setiap kali saya tanyakan, namum sampai hari ini semuanya nihil. Memang benar sempat kita mau ributkan masalah bantuan yang saya ajukan tapi yang lebih anehnya lagi kok bisa ujuk ujuk saya diberi alat pertanian bekas, gak tau saya mereka ambil dari kelompok mana yang jelas alat yang saya terima itu barang bekas pakai,” ujar narasumber.
“Semestinya kalau dinas itu memberikan bantuan pada kelompok tani manapun, belum pernah saya dengar mereka itu bagikan barang yang pernah dipakai oleh kelompok lain, setiap sifatnya bantuan kelompok tani apalagi di ajukan melalui proposal yang berdasarkan program dinas, yang jelas alat pertanian yang masih baru,” bebernya.
Masih kata ketua Kelompok Tani , proposal bantuan yang diajukan itu sudah banyak dari tahun 2021 sampai hari tak ada satu pun bantuan tersebut yang didapatkan semuanya nihil bahkan uang udah diberikan tak kunjung dikembalikan. “Bahkan saya pernah dengar selentingan kalau mesin yang mereka serahkan pada saya itu sebagai pengganti uang yang saya berikan sama mereka kalau memang seperti itu mendingan kami beli langsung di toko udah jelas baru, dan gak berbulan bulan kita menunggu.”
“Yang jelas kalau seperti ini cara mereka , itu bisa membuat masyarakat atau kelompok tani jera atau kapok, apalagi ditambah ada bahasanya bantuan bantuan dari dinas itu harus aspirasi dewan, baik kabupaten, provinsi maupun bantuan dari pusat, pada intinya dalam persoalan ini saya merasa dirugikan bantuan tidak saya dapatkan uang tak juga dikembalikan.”
“Saya sampai saat ini masih berusaha untuk sabar tapi jangan pula mereka jadikan kesabaran saya dijadikan alasan untuk menunda nunda kalau kesabaran saya habis, bisa aja permasalahan ini saya bawa ke jalur hukum ketimbang saya malu dengan anggota kelompok tani yang saya bina,” pungkasnya. (Sarip)




