dutapublik.com, JAKARTA – Tim Posko Pengaduan PMI (Pekerja Migran Indonesia) dari dutapublik menerima aduan berdasarkan laporan informasi dari masyarakat tentang dugaan maraknya kembali pengiriman ratusan PMI ilegal tujuan Timur Tengah/Arab Saudi.

Gambar 2: 3 (Tiga) CPMI Ilegal Usai Diamankan Petugas
Berdasarkan laporan informasi tersebut, banyak oknum swasta yang gencar bermain bisnis haram. Diduga juga para oknum Pegawai Pemerintah ikut bermain memuluskan dan atau melancarkan kegiatan ilegal dimaksud.
Salah satu sumber dari LSM yang tidak bersedia disebut namanya menjelaskan, bahwa puluhan PMI ilegal diduga terbang melalui Bandara Soetta, Halim, Juanda, Ngurah Rai, dan Hangnadim.
Ketika awak media dan beberapa LSM melakukan pengecekan pada Minggu, 29 September 2024 sekira mulai pukul 22.00 wib sampai dengan Senin pagi pukul 06.00 wib, diperoleh informasi dugaan adanya pemberangkatan PMI ilegal yang berjumlah puluhan orang.
Dikonfirmasi oleh tim awak media dutapublik.com ketika pihak BP2MI dimintai informasi terkait hal tersebut menjelaskan, bahwa tugas BP2MI tersebut menjelaskan tidak ada kewenangan untuk mencegah kegiatan PMI ilegal yang direkrut oleh oknum sponsor dan yang lainnya.
“Kami, hanya bisa mencegah berdasarkan data aduan walaupun jumlahnya banyak untuk mencegah PMI ilegal ini, kami hanya mencegah berdasarkan data aduan kira-kira begitu Pak. Dan selebihnya kita juga menghargai SOP atau aturan-aturan yang ada di sini Pak. Kalau untuk pencegahan itu seharusnya menginformasikan dulu gak mendadak seperti ini,” ujar, Ade, selaku petugas BP2MI Lounge Bandara Soekarno Hatta, Senin (29/9/2024).
Statement dari petugas BP2MI ini berlangsung saat tim Posko Pengaduan di lapangan melakukan pencegahan dan berhasil menggagalkan rencana penempatan ilegal tersebut sekaligus dimintai keterangan dari pada korban CPMI ilegal dan menerangkan, bahwa mereka benar-benar merasa dibohongi.

Gambar3: Tim Posko Pengaduan Dutapublik Bersama 3 CPMI Di Lounge Bandara Soekarno-Hatta
“Kalau memang ini ilegal pastinya saya gak akan mau terbang Pak, berhubung suami saya mengadukan pada pihak terkait, ya, suami saya meminta pertolongan untuk mengadukan kepada pejabat yang berwenang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, R, yang berstatus sebagai CPMI ilegal tersebut menjelaskan pula dari awal proses penempatan itu untuk bekerja ke negara timur tengah.
“Dari awal saya buat paspor ke Imigrasi, gak tau itu Imigrasi mana Pak, dan saya suruh berbohong bahwa ketika dibuatkan paspor suruh menjawab katanya paspor jalan-jalan gitu Pak, dan semuanya begitu. Kan, yang berangkat bukan saya aja. Pokonya sampai 28 orang, cuman dipisah-pisah gitu pak,” bebernya.
Sementara itu, Ade, selaku pihak BP2MI Lounge Bandara menerangkan berulang kali bahwa untuk pencegahan itu bukan ranahnya, melainkan ranahnya APH dan Satgas TPPO.
“BP2MI ini hanya bisa mencegah berdasarkan aduan tersebut. Misal, yang berangkat 28 orang, terus yang ngadu satu orang, ya, paling kami cegah satu orang,” ujarnya. (Deni)





