Tradisi Megengan di Desa Bancar Ponorogo, Warga Bersihkan Hati dan Pererat Silaturahmi Sambut Ramadhan

281

dutapublik.com, PONOROGO – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, warga Dukuh Duwet Lor, Desa Bancar, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menggelar tradisi Megengan. Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan ini menjadi sarana spiritual sekaligus sosial bagi warga untuk saling memaafkan dan berbagi rasa syukur.

Salah satu tokoh agama, Kyai Dzaini, yang memimpin doa dan tahlil, menekankan bahwa Megengan merupakan simbol kesiapan batin. “Megengan ini adalah wujud kebahagiaan kita dalam menyambut tamu agung, bulan Ramadhan. Intinya adalah sedekah dan doa untuk para leluhur agar kita memasuki bulan puasa dengan hati yang bersih,” ujar Kyai Dzaini.

Sementara itu, tokoh masyarakat Nurcholis mengapresiasi kekompakan warga yang tetap menjaga tradisi di tengah perubahan zaman. “Kehadiran warga, dari yang tua hingga yang muda, menunjukkan bahwa kerukunan di Duwet Lor sangat kuat. Ini menjadi modal sosial untuk menjaga lingkungan yang harmonis,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa tradisi kearifan lokal ini sarat makna kebersamaan dan spiritualitas. Kegiatan yang berpusat pada kerukunan warga tersebut diisi dengan doa bersama serta jamuan makan khas tradisional.

Suasana hangat terpancar saat warga berkumpul dan duduk bersila di atas ambal atau karpet. Para sesepuh dan warga laki-laki tampak mengenakan busana muslim lengkap dengan peci, menciptakan atmosfer religius yang kental.

Kehangatan dalam Kesederhanaan

Salah satu hal yang menarik perhatian adalah penyajian hidangan yang tetap mempertahankan tradisi. Makanan disajikan menggunakan alas daun pisang, yang bagi warga setempat melambangkan kesederhanaan serta kedekatan dengan alam.

Menu yang dihidangkan pun beragam, mulai dari nasi berkat hingga aneka lauk khas pedesaan, yang dinikmati bersama setelah pembacaan doa.

Ketua RT setempat, Marsim, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana membersihkan hati melalui doa bersama sebelum memasuki bulan puasa. “Tradisi ini juga menjadi momen mempererat tali silaturahmi antarwarga agar ibadah puasa dapat dijalani dengan hati yang lapang,” jelas Marsim, Senin (16/2/2026) malam.

Tradisi ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, warga tetap teguh menjaga warisan leluhur. Semangat gotong royong dan kekeluargaan menjadi modal utama dalam menyambut bulan penuh berkah dengan suka cita. (Muh Nurcholis)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *