Muktamar NU Ke-34, Gus Mahali: Mari Memilih Dengan Shalat Istikharah

731

dutapublik.com, LAMPUNG – Suasana jelang Muktamar NU ke-34 di Provinsi Lampung makin seru. Muncul saling klaim terkait para calon Ketua Umum PBNU periode 2021-2026, sebagaimana diberitakan media massa.

Menurut Ahmad Misbachul selaku Ketua Tim Caketum PBNU asal Sumatera, saling mengklaim dukungan dalam sebuah hajatan pemilihan pimpinan organisasi adalah hal yang normal.

“Gus Mahali selaku Caketum PBNU dari luar Jawa mengatakan kalau hal seperti itu adalah lumrah. Setiap orang berhak untuk menyampaikan klaimnya yang biasanya berdasarkan pada informasi dari tim atau orang-orang sekelilignya,” katanya, menyitir statemen Caketum PBNU yang didukungnya kepada awak media yang mewawancarinya di Ponpes Tribakti Al Ikhlas, Kampung Bumimas, Seputih Agung, Lampung Tengah.

Sementara, Gus Mahali sendiri saat ditemui sejumlah awak media dari berbagai media massa mengatakan, bahwa NU adalah organisasi yang didirikan oleh Para Ulama sehingga metode pemilihan Ketua Umum PBNUnya seharusnya mencontoh apa yang telah ditunjukkan oleh para pendahulunya, yaitu dengan metode klasik dan islami berupa Shalat Istikharah.

“Nahdlatul Ulama harus berbeda dengan sistim pemilihan organisasi lainnya. Ini kan organisasinya para Ulama dan Kyai. Untuk menghadirkan Pimpinan PBNU yang kredibel, dipercaya oleh manusia dan Sang Pencipta, maka jalan satu-satunya adalah dengan cara Shalat Istikharah.”

“Melalui Petunjuk Langit lah maka akan muncul pemegang kendali organisasi PBNU yang benar-benar luar biasa. Jika metode pemilihannya berdasarkan pada unsur-unsur duniawi, maka percayalah PBNU sulit mencapai progresivitas maksimal karena belum tentu pemimpin terpilih adalah pilihan Yang Maha Kuasa. Bahkan, bisa terjadi set-back,” ujaranya.

Gus Mahali juga mengetahui adanya isu-isu permainan politik uang oleh pihak tertentu dalam proses pemilihan Caketum PBNU di Muktamar NU ke-34 Lampung ini. Namun, Dewan Syuriah PWNU Provinsi Riau ini tidak mau berkomentar lebih lanjut.

Cucu salah satu Dewan Pendiri Nahdlatul Ulama KH. Humaidi Sholeh ini, justru berharap para Pimpinan NU Provinsi dan Kabuaten/Kota se-Indonesia untuk menggunakan suara hati dan Shalat Istikharah dalam memilih siapa yang layak untuk dijadikan Ketua Umum PBNU periode 2021-2026.

“Tidak harus saya yang dipilih jika hasil Shalat Istikharah mengatakan demikian. Sebab, saya hanya memimpikan munculnya Pimpinan PBNU yang benar-benar direstui Allah Subhanahu Wata’ala agar nanti PBNU bisa maksimal dalam memainkan perannya untuk Nahdliyyin, Agama, NKRI dan bahkan Dunia,” pungkasnya. (Erick)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *