dutapublik.com, CIREBON – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah KH Soleh Zuhdi atau akrab disapa Gus Sozhu merupakan sosok Kyai yang sangat peduli terhadap kelestarian adat istiadat serta budaya yang ada di wilayah Cirebon.

KH Sholeh Zuhdi
Dilihat dari rentetan sejarah, KH Sholeh Zuhdi adalah tergolong Kyai berdarah biru yaitu keturunan ke-7 dari Mbah Moqoyyim, yang masih sangat dekat keturunannya dengan Gusti Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati.
Keberadaan Sumur Tua Mbah Muqoyyim yang terletak di Kampung Kedung Malang persis di pinggir sisi Sungai Kedung Malang Desa Buntet Kecamatan Astana Japura didirikan sekitar tahun 1750 dalam kondisi masih Hutan Belantara.
Dengan tekad yang begitu kuat, Muqoyyim mendirikan Padukuhan Kecil dan didengar oleh sebagian orang. Akhirnya Muqoyyim sedikit demi sedikit mengajarkan Ilmu Agama Islam dan Ilmu-ilmu lainnya guna menentang paham kolonial.
Mulai saat itu Muqoyyim mulai dikenal sebagai kyai yang mumpuni dan sakti mandraguna. Hingga semakin banyak Murid yang menjadi Santri Muqoyyim ikut melakukan pergerakan menentang penjajah.
Peristiwa inilah yang membuat Muqoyyim sempat berpetualang sampai ke Pemalang dan akhirnya kembali ke Cirebon untuk membesarkan Pesantrennya di wilayah Buntet Cirebon.
KH Sholeh Zuhdi selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah dan sekaligus Pimpinan Padepokan Pusar Bumi Nusantara (PPBN) mengajak pada semua generasi penerus, pada semua Santri dan masyarakat Cirebon, agar terus menjaga Adat Budaya khususnya yang ada di Cirebon dan di seluruh Indonesia.
“Jangan Lupakan Sejarah, bahkan Pemerintah harus berperanserta terhadap pelestariannya, karena Adat Budaya adalah aset bangsa yang belum tentu dimiliki bangsa lainĀ Juga berharap pada pemerintah agar legalitas keberadaan situs-situs peninggalan leluhur yang ada di pelosok daerah mohon diperjelas supaya Identitas Bangsa Indonesia terus terjaga,” tuturnya. (hartono)


