dutapublik.com, BEKASI – Pembongkaran coran jalan menuju rumah warga di Kp. Jati Desa Labansari terjadi beberapa minggu yang lalu yang dilakukan oleh beberapa orang bahkan sampai menuai polemik diantara kedua belah pihak. Dan diketahui orang-orang tersebut adalah Aparat Desa Labansari Kecamatan Cikarang Timur Kabupaten Bekasi.

Nampak Coran Warga Tidak Bersisa Usai Dihancurkan Aparat Desa Labansari
Dengan terjadinya kejadian tersebut, pantauan dari awak media sampai hari ini masalah tersebut belum ada penyelesaian diantara kedua belah pihak.
Dengan persoalan di atas, awak media mencoba menghubungi Iyus, warga yang telah mengecor jalan tersebut. Iyu menjelaskan kronologis awal jalan tersebut sehingga ia berani mengecornya dengan uang pribadi.
“Yang saya ingat tahun 1986 saya sudah masuk SD dan setiap saya sekolah melalui jalan itu sampai sekarang ketika saya mau silaturahmi ke rumah orang tua selalu lewat jalan itu. Dan beberapa warga lainnya pun yang mau ambil air dan saat panen bawa padinya pakai motor ya lewat jalan itu juga,” ujar Iyus.
“Kalau secara historis awalnya jalan itu adalah sawah kakek saya yang bernama pak Namin dan diwariskan ke 2 anaknya yaitu Pak Karta dan Ibu Dasem. Lalu sawah yang ada jalannya itu awalnya yang punya uwa saya namanya Pak Karta warisan dari kakek saya. Dulunya memang sawah setelah itu diurug untuk dibuat jalan oleh Pak Karta, Bapak saya sendiri dan Kakek saya,” sambungnya.
Lalu kata Iyus, kalau tidak salah tahun 1995, Pak Karta menjual tanah sawah yang ada jalannya tersebut ke orang lain dan tetap jalan itu pun terus digunakan.
“Singkat cerita bahwa sawah uwa saya (Pak Karta) telah dijual ke beberapa warga dan terakhir tanah sawah itu dibeli oleh Pak Lurah Amak, untuk saat ini apakah hanya membeli tanah sawah saja atau sekalian dengan jalannya, nah disini saya kurang tau,” ungkapnya
Iyus pun mengatakan kenapa ia berani mengecor jalan itu, karena beranggapan jalan tersebut adalah jalan umum dan sepengetahuannya jalan itu tidak bisa diklaim oleh seseorang karena dari dulu sudah ada jalan.
Lalu melihat jalan itu jelek apalagi ketika hujan sangat becek maka ia berinisiatif mengecor jalan tersebut.
“Nah disinilah awal terjadi pembongkaran coran jalan yang dilakukan orang-orang suruhan Amak Gozali yang mengaku jalan itu masuk ke hitungan luas tanah sawahnya. Kalau dihitung lumayan lah saya sudah mengeluarkan biaya untuk mengecor jalan itu. Ya kurang lebih 6 jutaan,” ungkapnya. (Adi Sukriyadi)





