Pengakuan KSM Proyek Jambanisasi Dengan Tukang Bangunan Saling Bertolak Belakang

588

dutapublik.com, TANGGAMUS – Program Jambanisasi /WC yang dikucurkan oleh Dinas PUPR Kabupaten Tanggamus dengan tujuan untuk menunjang lingkungan bersih dan sehat. Tak tanggung-tanggung dana yang digulirkan mencapai ratusan juta rupiah dengan total per satu unit jambanisasi/WC mencapai nilai tujuh juta rupiah.

Namun fakta yang ditemukan di lapangan seperti di Pekon Sudimoro Bangun Kecamatan Srmaka, Kabupaten Tanggamus, keterangan yang didapat antara anggota pengurus Program tersebut dengan keterangan pekerja bangunan atau tukang sanitasi jamban sangat jauh berbeda penjelasan.

Tanto salah satu pengurus KSM mengatakan kalau untuk penerima sudah dipilih dan yang paling layak menerima, adapun upah pekerja harian, matrialnya melebihi volume semua, adapun ukuran 1125 persegi. Sedangkan spitank yang seharusnya 150 cm kedalamannya namun ada yang sampai 200 cm kedalamannya. “Makanya kata orang proyek itu dapat untung kalau disini gak dapat untung sama sekali,” ujar Tanto.

“Boleh ditanya sama yang penerima WC atau tanya sama RT siapa saja yang dapat, boleh ditanya kalau gak salah dananya 7 juta saya kurang tau persis coba tanya sama ketuanya Pak Rohadik diakan dari Balai Bandar Lampung langsung ini bukan dana dari Tanggamus ini dana dari Provinsi di tahun 2021 lalu,” sambungnya.

Kalau semen kata Tanto, silahkan tanya kepada penerima bantuan WC karena mereka yang ngaduk disini rata rata menghabiskan semen 15 sak kalau ada yang bilang habis 10 sak itu bohong. “Boleh ditanya semua termasuk rangka bajanya,” ucapnya.

Lanjut Tanto program ini ada tiga termin, kalau termen pertama ia ikut, lalu untuk termen berikutnya termin 2 dan 3 ia mengaku sudah tidak ikut lagi karena punya proyek sendiri.

“Andai kata kurang dari volume silahkan diukur tapi kalau untuk paralonnya antara kloset dan spitank nya jauh ya tak suruh nambahlah KPM nya penerima manfaat, emang yang mau nombok siapa, saya aja sampai ngomong saya kerja gak disini gak di rajabasa kalau gak ngerokok bohong,” jelasnya.

Sebenarnya kata Tanto, kesalahan muttak ada di kepala pekonnya yang seharusnya dia hanya mengetahui malah dia yang memanggil semua warganya. “Kita sebagai pengurusnya disini ada sembilan orang, pusing, jadi semua yang menentukan pekerjanya ya pak kakonnya karena kakon pada waktu itu masih baru dia belum tau pekerjaan mana yang harus melibatkan masyarakat,” ucapnya.

“Kalau untuk pembangunannya kita gak pakai batu kita pakai bata semua, yang lebih lucu lagi kita kan ada perubahan pertama datang 40 unit WC, kok ujuk-ujuk jadi lima puluh, siapa yang gak ngejerit katanya pakai besi kita kan sudah pakai besi, yang pertama dibangun punya pak Sabar yang rumahnya depan sekolahan,” pungkas Tanto.

Terpisah salah satu pekerja mengatakan warga penerima manfaat menerima barang sudah jadi. Penerima bantuan WC hanya dapat paralon satu batang kurang dari satu batang mereka beli sendiri soalnya kalau satu batang spitanknya terlalu dekat dengan sumur. “Tapi kalau 3 batang paralon itu udah jauh jadi penerima manfaat beli paralon sendiri 2 batang,” jelasnya.

Masih kata Tanto, spitanknya tidak pakai tiang hanya bata salaman saja, kalau lantai bawahnya dicor tapi tidak pakai besi. “Yang pakai besi cuma tutup spitanknya aja, spitanknya itu ada tiga plong kotak, kalau batanya sekitar 1500 bata, spitank pakai sabut kalau untuk yang lain saya kurang tahu soalnya saya hanya beberapa hari aja ikut kerjanya,” beber salah satu pekerja pada Senin (27/6).

Lalu terkait upah disini diborong satu unit WC nya diborong Rp1,7 juta rupiah. Ia mempersalahkan awak media dutapublik.com untuk langsung bertanya dengan saudara Tanto soalnya Tanto berkecimpung juga pada saat itu. (Sarip)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *