Keluarga Alvin Lim Bongkar Dugaan Konspirasi Pembunuhan Alvin Lim Oleh Oknum Petinggi Kejaksaan Agung

380

dutapublik.com, JAKARTA – Pengacara Alvin Lim, yang disebut Dahlan Iskan sebagai Pengacara paling berani menghajar oknum Kepolisian dan Kejaksaan, berhasil menunjukkan kebenaran dari perjuangannya. Selain berhasil membuat Kepolisian dan pemerintah gerah dengan lepasnya Hendri Surya yang kasus dan modus korup lepasnya Henri Surya dibongkar oleh Alvin Lim, kembali tim Lawyer LQ Indonesia Lawfirm berhasil membongkar keberadaan Natalia Rusli dan memberikan info bak detective.

Letak Natalia Rusli yang kabarnya DPO dan tidak dapat ditemukan Polres Jakarta Barat, melalui foto Natalia Rusli beserta lokasi dan dengan siapa. Sehingga, membuat Natalia Rusli gerah dan akhirnya, pada Selasa, 22 Maret 2023, ditangkap Polres Jakarta Barat. Natalia Rusli adalah sosok di balik fitnah dan upaya kriminalisasi terhadap Alvin Lim, agar ditutup mulutnya yang vokal dan berani. Walau di penjara, Alvin Lim ingin memberi contoh sebagai warga negara yang baik dan taat hukum walau beliau tidak setuju vonis pengadilan.

“Dengan ikhlas, beliau jalankan masa tahanan. Walau sebelumnya, pihak lawan menyebarkan isu Alvin Lim melarikan diri ke Singapore. Alvin Lim kstaria dan tidak takut di penjara. Mati pun tidak takut,” ujar Advokat Bambang Hartono, S.H., M.H., selaku Kadiv Humas LQ Indonesia Lawfirm, dalam press releasenya, pada Sabtu (25/3).

Istri tercinta Alvin Lin, yakni Phioruci menuturkan, bahwa pihak musuh dan oknum Intelijen tidak berhenti walau Alvin Lim di penjara. Diam-diam dilancarkan modus agar Alvin Lim mati perlahan di Lapas.

“Suami saya terkena gagal ginjal Kronis stadium 5, gagal jantung, dan paru-paru berisi air. Sesak nafas, muntah-muntah tiap hari, dan terakhir ini sering kehilangan kesadaran dan pingsan, serta kaki kram tidak bisa digerakkan. Dokter perintahkan untuk cuci darah, Hemodialysis. Lapas sudah jalankan tugasnya dan membawa Alvin Lim ke RSCM berulang kali. Namun, RSCM ini mempersulit dalam Alvin Lim memperoleh rawat inap, karena untuk cuci darah harus dipasang selang ke jantung agar darah bisa dicuci ke mesin. Sudah harus cuci darah seminggu 2-3 kali.”

“Anehnya, berminggu-minggu proses untuk mendapatkan rawat inap tidak juga diberikan oleh RSCM. Hari Jumat ketemu Dokter bedah Vaskuler, dr. Tedja, disuruh segera operasi pasang selang. Namun, dokter bedah tidak bisa memberikan rujukan rawat inap dan harus ketemu Dokter Pringgo ahli ginjal untuk rujukan. Hari Senin ketemu dr. Pringgo dan keluarlah rujukan rawat inap, dan diminta daftar untuk rawat inap. Kami datang ke admissions dan dibilang kamar di RSCM Kencana baik regular maupun VIP penuh semua. Lalu, diberikan nomer antrean 11, pada Senin 20 Maret,” terangnya.

Dikatakan Bambang, pada Selasa (21/3) dan Rabu (22/3), Phoruci berusaha menghubungi RSCM menanyakan availability kamar, tidak dibalas. Akhirnya, pada Kamis (23/4), Phioruci mendatangi RSCM dan diinfokan bagian administrasi, bahwa belum ada satupun pasien rawat inap yang keluar selama 3 hari terakhir.

“Karena tidak percaya, Phioruci ke lantai tujuh dan menanyakan ke perawat rawat inap. Diketahui, bahwa hari Kamis itu aja, ada 2-3 orang pasien baru masuk kamar. Mengetahui dibohongi, Phioruci meminta agar ketemu dengan Manajer RSCM. Dan setelah berbicara, dicek kembali urutan Alvin Lim, dan diinformasikan hari Kamis (24/3), nomor antrean malah jadi nomor 15. Manajer RSCM berjanji akan membereskan masalah itu, karena Kamis cuti bersama,” jelasnya.

Bambang merasa heran, ketika pada Jumat (24/3), pihak Lapas dihubungi RSCM dan diminta kembali mengulangi proses rujukan dan kembali menemui konsul dr. Tedja dan menemui dokter lainnya, dokter Paru, dokter Anesthesia.

“Padahal, ketemu dokter Tedja sudah sampai 3 kali dan setiap ketemu selalu sama, yaitu WAJIB segera pasang selang Dialysis. Setiap ketemu bayar 700 ribu, ini disuruh ketemu lagi. Baru ambil antrean rawat inap baru. Jelas ini dipersulit. Logikanya di mana, Senin nomor antrean 11, Kamis jadi nomor antrean 15? Di mana-mana, antrean selalu menurun dengan berjalannya waktu, bukan nambah. Jika nambah, maka minggu depan antrean nomor 20 dan bulan depan antrean nomor 50. Maka, seumur hidup juga tidak akan dapat kamar rawat inap. Masa, RSCM Kencana dengan tarif Rp2.250.000 Kamar VIP, Super VIP, dan President, sulit, semua penuh? Tidak masuk akal,” bebernya.

Sementara, putri Alvin Lim, yaitu Kate Victoria Lim mengatakan, bahwa berdasarkan informasi yang diterima dari seseorang yang bernama Takala, bahwa diduga ada orang Intel suruhan Jamintel, agar Alvin Lim dipersulit.

“Tujuan misinya agar Ayah saya mati di penjara karena penyakit. Saya sebagai anaknya tidak rela perjuangan ayah saya bagi negara ini dibalas dengan pembunuhan Ayah saya dan pelanggaran HAM berat. Ayah saya pejuang dan pahlawan, bukan hanya bagi korban investasi bodong, tapi juga bagi keluarga dan bagi saya. Pemerintah harus periksa Jamintel dan minta keterangan Pak Takala yang katanya mendapatkan informasi dari kepala RSCM ada perintah Kejaksaan untuk persulit Alvin Lim. Usut tuntas hal ini!.” tukasnya.

Kate menduga adanya intimidasi dari pihak Kejaksaan yang menekan pihak Mabes Polri, dengan memaksakan agar dilakukan pemeriksaan BAP kepada Alvin Lim, yang diketahui kondisinya masih sakit kritis.

“Pemerintah tidak boleh jadi agen membunuh advokat yang notabene adalah aparat penegak hukum. Parahnya, Kejaksaan terus menekan Mabes Polri, yang terus mengganggu pikiran Ayah saya dengan paksaan pemeriksaan BAP terhadap 185 Laporan Polisi. Padahal, penyidik tahu Alvin Lim sakit kritis. Tapi, gangguan dengan datangnya dan intimidasi pemaksaan BAP di Lapas untuk merusak pikiran dan memberikan gangguan mental terhadap Ayah saya. Polisi punya otak tidak? Sudah dikasih bukti rekam medis dan hasil Lab, bahwa Ayah saya sakit, masih terus menanyakan dan memaksakan kapan Ayah saya sembuh dan bisa diperiksa. Penyidik sekolah tidak yah?.”

“Yang menentukan kapan Ayah saya bisa sembuh, Tuhan. Harusnya tanya ke Tuhan, kapan Ayah saya bisa sembuh dari gagal ginjal Kronis, gagal jantung? Bukan memaksakan Ayah saya agar diperiksa dalam kondisi kritis. Saya tegaskan dalam hal ini Mabes dan Kejaksaan menjadi alat untuk membunuh dan menyiksa advokat yang dalam kondisi kritis. Sangat kejam, memalukan dan menjijikan. Tidak mampu melawan Ayah saya “one to one”, main keroyokan, menggunakan alat negara untuk membunuh Ayah saya. Saya tidak rela, saya akan melawan, silahkan penjarakan saya. Saya rela ikut mati demi Ayah saya,” tuturnya.

Jika Alvin Lim tidak diberikan akses kesehatan, lanjut Kate, dirinya akan menggugat pemerintah atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Saya minta agar Lapas memikirkan kesehatan Ayah saya. Saya dan LQ Indonesia Lawfirm akan gugat pemerintah atas pelanggaran HAM, jika Ayah saya tidak diberikan akses kesehatan. Jika RSCM persulit, seharusnya Lapas berikan izin untuk rawat di RS Swasta segera, karena racun dalam tubuh Ayah saya sudah menyerang otak. Ayah saya kesulitan berpikir dan berkonsentrasi, Kreatinin-nya sudah di atas 10, normal di bawah 1, dan fungsi ginjal sudah turun lagi dari 7% ke 5%.”

Warna kulit muka Ayah saya sudah berubah karena racun. Ini kondisi gawat darurat, perlu Rumah Sakit. Kalo nunggu mati, nanti bukan Rumah Sakit lagI, tapi Kuburan. Jika tidak ada tindakan konkret, saya, Tim LQ, Ormas dan Wartawan akan unjuk rasa ke RSCM agar masyarakat tahu bobroknya RSCM bisa dikontrol oknum Kejaksaan untuk membunuh orang,” tegasnya. (Red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *