dutapublik.com – KARAWANG Sanggar Lab Teater Lumbung yang berdiri sejak 5 Mei 2005 telah melahirkan lebih kurang 800 peserta didik yang berasal dari 30 Kecamatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Pada tahun 2010 Lab Teater Lumbung yang bermukim di Kecamatan Kutawaluya dan diminta untuk berproses di Kota, pada tahun 2012, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karawang, Acep Zamhuri memberikan tempat kepada Lab Teater Lumbung diberikan tempat di Pendopo Pangkal Perjuangan Alun-Alun, kemudian dipindahkan lagi untuk berproses di Kampung Budaya Desa Wadas Kecamatan Telukjambe Barat Karawang.
“Kini rumah proses kami di belakang Kampung Budaya hancur lebur dan porak poranda oleh alat berat yang melakukan proyek pemulihan kali Kalapa Desa Wadas,” kata Pendiri Lab Teater Lumbung Hendra Wijaya.
Berdasarkan pantaun di akun media sosial facebook Paman kwek kwek, penggusuran Lab Teater Lumbung secara sepihak tersebut dilakukan pada Jumat (23/4).
“Kami sangat menyesalkan tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu sebelum melakukan penggusuran,” ujarnya.
Hendra Wijaya menjelaskan, Lab Teater Lumbung telah membangun empat saung diantaranya Gudang Properti, Saung Diskusi dan Perpustakaan Budaya tanpa meminta sepeserpun pada Pemerintah Daerah.
“Penggusuran tersebut sangat berdampak kepada generasi milenial yang ingin dan bersemangat berproses dalam Bidang Seni Peran, Pertunjukan, Musik, Tari, Sastra,” keluh Hendra Wijaya.
Lab Teater Lumbung mempunyai segudang prestasi gemilang di antaranya juara umum Festival Teater Jakarta terbuka 2018, Festival Teater Remaja Jawa Barat – Banten di ISBI, Bandung tahun 2017.

Kemudian, memberikan beasiswa jenjang Strata Satu (S1) bagi peserta didik, diantaranya sembilan orang di Universitas Mpu Tantular Jakarta, dua orang ISBI Bandung dan satu orang workshop teater selama tiga bulan di Rusia.
Lab Teater Lumbung juga membawa nama Karawang ke kancah Internasional yang diminta langsung oleh Keduatan Besar Jepang dengan menampilkan naskah Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya.
“Biarlah demi kepentingan masyarakat banyak, saya ngga tau harus kemana kini. Tuhan, kemana pancasila itu. Kemanusiaan yang adil dan beradab,” pungkas Hendra Wijaya. (radi)





