dutapublik.com, KARAWANG – Siapapun yang melihatnya akan dibuat geleng-geleng kepala, ketika menohok Tugu i Love Karawang dan pagar RSUD Karawang senilai Rp1,6 miliar yang anggarannya berasal dari bantuan Gubernur Jawa Barat Tahun Anggaran 2021.
Bahkan sebagian kalangan seperti Pengamat dan Pemerhati Pemerintahan Karawang Asep Agustian, S.H., M.H., sampai tertawa terbahak-bahak, ketika ditanya soal kualitas pekerjaan tugu dan pagar RSUD Karawang.
Katanya, jika dilihat secara kasat mata saja, dengan anggaran yang fantastis dan hasil pekerjaan yang ada, jelas kualitas hasil pekerjaan tugu dan pagar RSUD Karawang sangat buruk.
Jika panjang pagar RSUD mencapai 250 meter, secara hitungan matematis dengan anggaran Rp1,6 miliar, maka harga pagar RSUD mencapai Rp4 juta per meternya. Semahal itukah pagar RSUD?.
Berapakah diameter besi pagar RSUD Karawang? Sebaik apakah kualitas pasir, semen hingga cat pagar RSUD Karawang?.
“Secara kasat mata ini pekerjaan yang buruk. Coba lihat saja cat pagarnya, amburadul. Itu seperti beli cat kiloan,” ujar Askun alias Asep Agustian, S.H., M.H., pada Minggu (13/2).
Belum lagi kata Askun, mengenai kualitas tugu i Love Karawang di depan RSUD Karawang. Menurutnya, tugu i Love Karawang di depan RSUD ini sama sekali tidak memiliki arti atau makna filosofis terhadap keberadaan RSUD, sebagai rumah sakit yang harus mengedepankan pelayanan terhadap masyarakat.
Ditambah, tulisan i Love Karawang yang menghalangi pandangan tulisan RSUD Karawang.
“Bongkar saja itu tugu i Love Karawang. Orang yang lewat di sana itu nyari tulisan RSUD-nya. Ini malah dihalangi i Love Karawang. Ngebangun tugu kok gak pake estetika,” katanya.
“Kalau kontraktornya cerdas, seharusnya bangun saja patung dokter atau suster yang sedang melayani pasien. Atau tulisan i Love Karawang diganti dengan tulisan RSUD Karawang. Ini bangun tugu kok asal-asalan, kayak yang gak punya konsep,” imbuhnya.
Menurut Askun, perencanaan awal pembangunan pagar dan tugu RSUD Karawang ini seperti tidak terkonsep. Karena ada dua kali proses lelang. Yaitu dimana tender awal senilai Rp2,4 miliar, kemudian dipangkas menjadi Rp1,6 miliar.
Pelaksanaannya yang mengejar waktu kalender, otomatis hasil pekerjaanya ditertawakan masyarakat.
“Saya jadi curiga, apa betul pelaksananya profesional. Coba lihat saja itu acian pagarnya juga gak rata,” herannya.
Belum lagi kata Askun, ia mendapat kabar jika pelaksana pekerjaan sebenarnya bukan pemilik asli CV. Putra Nusantara Muda sebagai pemenang tender tugu dan pagar RSUD Karawang.
“Sekarang pertanyaanya, apa boleh itu perusahaan dipinjamkan atau disewakan? Inget loh, dulu juga pernah terjadi pengadaan di RSUD dengan nyewa perusahaan untuk ikut tender. Alhasil, mereka malah jadi tersangka,” paparnya.
Jika benar pelaksana pekerjaan meminjam CV. Putra Nusantara Muda, Askun mempertanyakan berapa biaya sewa perusahaanya.
“Jika sewa perusahaan mencapai 2,5%, maka biaya sewa bisa mencapai 2500 juta dari nilai tender Rp1,6 miliar. Belum lagi pelaksana nyari untuk 20%. Jadi wajar saja jika kualitas pekerjaan pagar dan tugu RSUD Karawang sangat buruk,” sindirnya.
“Lagi-lagi dalam persoalan tender seperti ini, Bupati kembali ditampar dengan hasil kinjera anak buahnya. Dirut RSUD yang katanya baru-baru ini dapat penghargaan, inilah sebenarnya reward-mu yang secara tidak langsung sebenarnya menunjukan bahwa penghargaan itu belum pantas diberikan,” sebutnya.
Atas persoalan hasil pekerjaan tugu dan pagar RSUD Karawang yang buruk ini, Askun mendesak Kejaksaan Negeri Karawang segera turun tangan. Pertama, memeriksa semua administrasi proses tender. Kedua, mengecek langsung ke lokasi pekerjaan tugu dan pagar RSUD Karawang, seperti halnya dulu Kejaksaan memeriksa hasil pekerjaan 15 miliar pedestrian di sepanjang Jalan Ahmad Yani.
“Coba ketok aja itu pagar RSUD. Nanti juga keliatan berapa diameter besinya dan bagaimana kualitas pasir sama semennya. Karena kalau secara kasat mata, proses acian pagarnya juga sudah amburadul,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Marwati menyampaikan, proyek ini dikerjakan oleh PT. Putera Nusantara Muda (PNM).
Menurut Marwati, awalnya proyek pagar ini gagal kontrak karena tidak ada penyedia jasa yang memenuhi syarat.
“Saat itu ada 3 Perusahaan calon pemenang lelang,” ujar Marwati, pada Rabu (9/2).
Setelah itu, pekerjaan kemudian displit menjadi beberapa tahap. Pagu awal Rp2,4 Miliar kemudian dilakukan tender ulang dan muncul angka Rp1,6 Miliar setelah dihitung ulang oleh konsultan.
“Setelah dilelangkan akhirnya sepakat Rp1,4 Miliar dikerjakan oleh PT. Putera Nusantara Muda,” urainya.
Marwati berharap bantuan kembali dikucurkan oleh Pemprov Jabar, agar proyek pembangunan pagar bisa selesai 100 persen sesuai rencana awal. (Iwan Ridwan)





