dutapublik.com, JAWA BARAT –
Oleh Kang Aceng Tea
Gamelan salendro terus bertalu,
suling dan kendang bertaut irama,
membangunkan warga Tatar Sunda.
Bapa Aing tandang,
membuka cakrawala Pasundan.
Ia lahir dari keluarga biasa,
berpakaian sederhana,
berbicara dengan bahasa rakyat—
apa adanya.
Ia menyapa cinta dan rasa,
untuk membangun peradaban negeri,
agar tercipta keseimbangan
antara manusia dan alam—
yakni harmonisasi kehidupan.
Setiap langkahnya selalu mendapat
halangan, rintangan, dan ujian.
Tak sedikit orang kecewa,
tak sedikit yang merasa terusik.
Namun, ia teguh dalam keyakinan:
kehidupan harus dibangun
dengan peradaban baru—
mengembalikan keseimbangan
antara manusia dan alam:
silih asah, silih asih, silih asuh—
menyulam rasa, merengkuh cinta
antara pemerintah dan rakyatnya.
Satu per satu ia hadapi
dengan senyum,
langsung memberi solusi.
Ia terus melangkah,
menghentikan orkestra kehidupan
yang penuh rekayasa,
mengubah kebijakan negara
yang menyengsarakan rakyat.
Gamelan salendro terus bertalu,
suling dan kendang bertaut irama,
membangunkan warga Tatar Sunda.
Bapa Aing tandang,
membuka cakrawala Pasundan.
Penulis: Penyair Jalanan dari Tatar Sunda. (Red)


