Berikut Keterangan Ketua Kelompok Tani Sekar Tanjung Pekon Tanjung Anom Penerima Bantuan Sapi Pemerintah

153

dutapublik.com, TANGGAMUS – Pada Rabu tanggal 15 Januari 2025 lalu awak media dutapublik.com lebih dulu meminta keterangan Ketua Kelompok penerima bantuan sapi di Pekon Tanjung Anom, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, Sunaryo.

Saat dikonfirmasi awak media dutapublik di kediamannya Sunaryo mengatakan sekitar tahun 2017 kelompoknya menerima bantuan sapi dari Pemerintah Provinsi sebanyak 22 ekor sapi, 2 ekor sapi pejantan dan 20 ekor sapi betina. Adapun sistemnya bergulir tapi pergulirannya khusus untuk anggota kelompok bukan ke masyarakat atau orang di luar anggota.

“Karena ini kan bantuan untuk kelompok bukan hibah dari pemerintah ke masyarakat, makanya yang memelihara juga anggota kelompok bahkan anggota kita aja belum kebagian semua,” ujar Sunaryo, Selasa (21/1/2024).

Selaku Ketua Kelompok, Sunaryo menjelaskan, di tahun 2015 ia membentuk Kelompok. Namun ia terkendala membentuk kelompok karena kesulitan mencari anggota maka Kelompok baru terbentuk di tahun 2016.

“Setelah terbentuk di tahun 2016 kita langsung mengajukan bantuan dan Alhamdulillah di tahun 2017 kelompok kita yang mendapatkan bantuan sapi dari pemerintah, bantuan tersebut bukan dari Pemerintah Kabupaten melainkan bantuan Pemerintah Provinsi,” ujarnya.

“Adapun jumlah bantuan yang kita terima saat itu ada 20 ekor sapi betina dan 2 ekor sapi jantan jadi jumlah keseluruhan 22 Ekor dan sekarang tersisa 18 Ekor 16 Ekor betina 2 jantan,” jelasnya.

Lanjut Sunaryo kemudian sistemnya itu bergulir karena ini sifatnya bantuan untuk kelompok bukan hibah ke masyarakat maka bergulirnya juga khusus ke anggota kelompok. “Jadi masyarakat yang bukan anggota kelompok kami kalau pun mereka mau ikut ke kelompok kami itu pun mereka masuk anggota kelompok dulu setelah mereka masuk anggota kelompok baru mereka masuk dalam daftar tunggu jadi tidak bisa bagi anggota yang baru masuk langsung memelihara sapi yang bersangkutan harus menunggu dulu,” jelasnya.

Dari jumlah bantuan 22 ekor, sedangkan anggotanya ada 25 anggota, karena tidak cukup maka Sunaryo mencari solusinya. “Makanya waktu itu saya musyawarahkan lagi, jadi harus ada yang mengalah karena bantuan itu nggak cukup untuk 25 orang anggota,” ujarnya.

“Kalau untuk sistemnya sudah kita atur angota kelompok yang memelihara jika sapi itu beranak, anak pertama kita serahkan sama yang memelihara tapi kalau sapi tersebut beranak lagi maka sistemnya 70% 30 % artinya 70% untuk yang memelihara 30% untuk kelompok adapun 30% tersebut kita jadikan kas kelompok,” jelasnya.

Dari 16 ekor sapi betina, itu rata-rata sudah beranak semua tapi ada juga saat beranak induknya mati kalau kejadian seperti itu kita sarankan ke kelompok yang memelihara untuk merawat anaknya lalu kita jual, kemudian kita belikan indukannya lagi sebagai pengganti kalau kita jual anaknya nggak mungkin cukup untuk membeli induk setidaknya ada penambahan dana,” terang Sunaryo.

“Contoh seperti sapi yang dirawat Pak Misdi, sudah dua kali beranak selalu induknya mati, makanya Pak Misdi sampai sekarang belum pernah setor ke kelompok. Masih mendingan kalau yang mati sudah beranak ada pengganti induknya dan ada juga induknya kita jual karena kurang sehat, tapi kita belikan lagi.”

“Untuk sapi yang kurang sehat memang ada perintah dari sana kalau induk sapi kurang sehat kita jual dan kita belikan lagi pengganti indukan lalu kalau proses agar sapi itu hamil awalnya kita pakai pejantan karena ada saran dari pemerintah lebih efektif pakai suntik dan lebih mudah maka kita gak pakai pejantan lagi,” urainya.

Sampai sekarang pejantannya masih yang dahulu dan kini usianya sudah tua” maka pihaknya akan lakukan peremajaan lagi dengan cara sapi pejantan yang sudah tua dijual lalu dibelikan lagi yang masih muda. “Adapun hasil dari penjualan tersebut kalau pun ada sisanya kita serahkan ke yang memelihara paling kita minta administrasinya aja Rp500 ribu,” ujarnya.

“Sapi jantan sekarang dipelihara sama Pak Misdi 1 Ekor dan yang 1 Ekor lagi diurus sama Pak Dedi di RW 2 Pekon Tanjung Anom. Adapun pengurus Kelompok Tani Sekar Tanjung Ketua saya sendiri, Sekretarisnya Agus Bendaharanya Ratman,” beber Sunaryo.

Kemudian untuk pemeriksaan dari mantri hewan misal ada penyakit kemudian tidak ada program, Sunaryo mengaku harus keluarkan biaya tapi kalau sedang ada program itu gratis kadang kadang setahun 3 sampai 4 kali disuntik.

“Berbeda lagi kalau suntik IB ini ada biaya sendiri sekarang biayanya mencapai Rp 250 ribu mending kalau satu kali suntik langsung hamil ada yang nyampe belasan kali gak hamil hamil, tapi biayanya ya tetap 250 ribu karena biaya 250 ribu itu sampai hamil,” pungkas Sunaryo. (Sarip)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *