Koordinasi Progja, Pembinaan Muallaf Dan Penguatan Keaswajaan Bersama KH. Nasihuddin Di Agenda Lailatul Ijtima

920

dutapublik.com, KUBU RAYA – Pengurus Ranting Nahdhatul Ulama Desa Kuala Mandor A (PRNU-KMA) Kecamatan Kuala Mandor B Kubu Raya mengadakan Lailatul Ijtima di kediaman Ust. Ferdin Parit Mariana, Minggu, (26/12).

Ketua Tanfidz PRNU, Ust. Syamsudin dalam sambutannya maupun Rois Syuriah Ust. Abdul Hary senada menyampaikan bahwa PRNU Desa Kuala Mandor A memiliki beberapa program yang telah terlaksana, seperti kegiatan Lailataul Ijtima’ yang rutin tiga buan sekali, mengadakan silaturrahmi kepada tokoh-tokoh agama di desa, pendampingan program vaksin bekerjasama dengan desa serta program-program lain yang bersifat kontinyu termasuk respon pembentukan Pergunu, sinergi dengan Fatayat-Muslimat NU serta upaya menjadikan Kampung Muallaf Jelau menjadi kampung binaan Pengurus Ranting NU Desa Kuala Mandor A.

Di kesempatan yang sama, Ust. Qomaruzzaman, M.H.I., selaku Wakil Rais Syuriah MWC NU Kuala Mandor B menyampaikan PRNU KMA harus bersinergi dengan beberapa Banom NU seperti Fatayat, Muslimat serta mengusulkan terbentuknya, Persatuan Guru NU (PERGUNU), Pengurus Anak Ranting NU (PAR-NU) serta menjadikan kampung Muallaf di kampung Jelau Kuala Mandor A menjadi kampung binaan khusus PRNU desa Kuala Mandor A.

Acara Lailatul Ijtima’ ini ditutup dengan tausyiyah oleh KH. Nasihuddin Khozin. Dalam tausiyahnya Kiai Nasihuddin ini menyampaikan, “Lailatu Ijtima’ itu bahasa sederhananya adalah kumpul-kumpul malam, mengaji dengan diselingi ngopi, merokok, dan makan-makan. Dan mengaji saperti ini lebih utama daripada kumpul-kumpul sambil (ghibah) membicarakan orang lain.

Kiai yang termasuk Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Ulum I Malang ini menyampaikan bahwa Organisasi yang fokus dalam masalah sosial, agama dan politik pemerintahan sebelum NU berdiri khususnya masa Wali Songo telah ada.

“Namun yang diformalkan barulah pada masa KH. Hasyim Asy’ari dengan berdirinya Organisasi Nahdhatul Ulama. NU memiliki karakter tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran),” ujar Khozin.

“Oleh karenanya, para pendiri (muassis) NU menanamkan pola pikir (mindset) bahwa kita orang yang ada di Indonesia yang beragama Islam. Bukan Orang Islam yang ada di Indonesia.”

Dalam segala hal NU selalu menyesuaikan dengan kondisi (konteks) di Indonesia selama tidak bertentangan dengan Islam. “Jadi Islam NU itu tidak Kaku dan tidak kagetan. NU itu luwes tidak keras dalam menyampiakan hukum fiqih pada umatnya,” tuturnya.

Lebih lanjut KH. Nasihuddin menyampaikan sebuah kisah seseorang “fulan” memiliki 6 orang anak lalu ia ingin berqurban 1 ekor Sapi untuk 8 orang (si fulan, istri serta 6 anaknya), namun karena aturan fiqh mengatur bahwa 1 ekor sapi hanya untuk 7 orang, maka si fulan datang pada Kiai “A” yang beraliran tertentu dan menyampaikan ingin berqurban 1 ekor sapi untuk 8 orang (sekeluarga) lalu si Kiai A menyatakan bahwa itu tidak bisa karena hukumnya sudah jelas 1 ekor sapi untuk 7 orang.

Kemudian si fulan datang pada Kiai “B” yang beraliran NU menanyakan hal yang sama. Kiai B lalu menjawab bahwa berqurban 1 ekor sapi untuk 8 orang itu bisa dan nanti hewan qurban tersebut akan menjadi tunggangan melewati shirotul mustaqim. “Oleh karena kamu (fulan) 8 orang sekeluarga dan anakmu yang nomor 6 masih kecil tentu ia tidak bisa menaiki sapi tersebut,” ujarnya.

Sehingga perlu sarana untuk bisa naik ke sapi, dan sarana tersebut adalah 1 ekor kambing. Jadi anakmu yang paling kecil itu agar bisa naik ke sapi harus dibelikan 1 ekor kambing. Atas penjelasan kiai B ini maka si fulan pun menerima sehingga hukum fiqh 1 sapi untuk 7 orang dan 1 kambing untuk 1 orang terpenuhi.

Kisah di atas inilah salah satu contoh luwesnya ulama NU dalam menyampaikan sebuah hukum pada umatnya. Oleh karenanya lanjutnya ketika Kiai Hasyim disodorkan lambang NU, Kiai Hasyim minta lambang NU tersebut dibawa pada KH. Nawawi Sidogiri untuk ditashih dan oleh Kiai Nawawi disuruh tambah tali tapi jangan seret-seret (longgar saja), filosofinya adalah bahwa NU itu tidak kaku dan keras tapi tawasuth (moderat).

Kiai Nasihuddin Khozin juga memberikan amanah pada pengurus PRNU Desa Kuala Mandor A untuk selalu menjaga umat dan generasi berikutnya. Karena zaman sekarang ada golongan-golongan tertentu yang ingin merusak stigma positif Kiai dan pesantren menjadi negatif sehingga generasi Islam di Indonesia, khususnya generasi NU jauh dari ulama dan pesantren nantinya.

Pondok pesantren yang menjadi ciri khas Indonesia dengan ciri khas kurikulum aswajanya disaingi dengan membuat pesantren yang kurikulumnya bukan paham aswaja.

“Temasuk Istilah Kiai yang dulunya menjadi gelar bagi ulama yang mumpuni ilmunya serta memiliki pesantren layaknya gelar professor atau doktor, sekarang siapaun dengan mudah disebut kiai. Jadi tantangan PRNU sebagai garda terdepan yang bersinggungan langsung dengan masyarakat terbawah ke depannya semakin berat. Oleh karena itu, pengurus PRNU harus kompak, semangat dengan program-program yang tepat sasaran dan selamatkan generasi penerus kita,” jelasnya.

Dalam Acara tersebut selain dihadiri oleh KH. Nasihuddin Khozin Pengasuh Pondok Pesantren Raudatul Ulum I Malang juga hadir beberapa tokoh seperti Ust. Mustahar (perwakilan PC NU Kubu Raya), Ust. Muhammad Syahril, Ust. Agus Salim, Ust. Mayuri Ust. Qomaruzzaman (Perwakilan MWC-NU Kec. Kuala Mandor B) serta beberapa tokoh agama dan masyarakat setempat.

Struktur organisasi NU tingkat desa/kelurahan ini diisi dengan beberapa kegiatan seperti shalat maghrib bersama dilanjutkan dengan doa dan dzikir bersama (yasin-tahlil) yang menjadi ciri khas NU, kajian tentang keaswajaan serta diskusi program jangka pendek dan program jangka panjang.

Dalam kesempatan tersebut baik perwakilan PCNU maupun MWC sangat mengapresiasi kegiatan Lailatul Ijima’ ini dan mendorong PRNU Desa Kuala Mandor A semakin istiqomah serta membuat program-program khusus untuk soliditas anggota serta penguatan keagamaan umat yang bercirikan khas NU karena banteng terkuat NU adalah di pengurus tingkat bawah seperti PRNU dan lainnya. (Abshor)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *