dutapublik.com, TANGGAMUS – Bantuan sapi di Pekon Tanjung Anom, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, sekitar tahun 2014 – 2015 lalu tidak ada istilah bergulir khusus kelompok tani tertentu, bantuan tersebut untuk mensejahterakan masyarakat. Hal itu disampaikan Katiran saat dikonfirmasi oleh awak media dutapublik.com di kediamannya pada Kamis (17/1/2025).
Menurut Katiran bantuan sapi di Pekon Tanjung Anom dimana saat itu ia masih menjadi Wakil Ketua Badan Himpun Pemekonan (BHP) Pekon Tanjung Anom juga masih berprofesi sebagai aparat negara aktif, juga bertugas selaku Babinsa di Pekon Batu Keramat.
“Karena Pekon Batu Keramat dapat bantuan sapi maka saat itu, yang ada di pikiran saya bagaimana caranya bisa membantu masyarakat Tanjung Anom supaya sejahtera, namun faktanya sekarang bantuan tersebut hanya dimanfaatkan oleh mereka mereka dan tak pernah digulirkan ke masyarakat,” ujar Katiran.
“Begini awal ceritanya, saat ada acara penyuluhan dari Dinas Peternakan di Kodim, setelah selesai acara, saya tanya bagaimana caranya untuk mendapatkan batuan sapi, karena itu sifatnya bantuan maka harus ada pengajuan lebih dulu, kata orang Dinas, karena ada penjelasan seperti itu maka saya bicarakan sama Pak Kakon waktu itu Pak Mardi baru dilantik, saya suruh pihak Pekon buat proposal,” ucapnya.
“Supaya jelas waktu saya bicarakan sama pak Kakon, apa jawaban Pak Mardi dimana caranya pak, itu jawab pak Mardi, jadi saya bilang sama pak Mardi udah dibuat aja proposalnya lalu kasihkan ke Dinas nanti saya yang pantau di Dinasnya maka saya tau persis kalau masalah bantuan sapi itu, begitu awal ceritanya asal muasal bantuan sapi tersebut.”
Setelah pihak Pekon buat proposal kemudian diajukan ke Dinas Peternakan, dari situ, Katiran intens komunikasi terus dengan Dinas untuk mengawal program bantuan tersebut, bahkan ia sampai bicara sama pihak Dinas kalau bantuan tersebut sampai tidak keluar ia bisa malu dengan masyarakat Tanjung Anom. “Tapi apa jawaban dari pihak Dinas insya Allah keluar pak kata mereka dan setelah bantuan itu keluar saya pun diundang ke Pekon,” beber Katiran.
Masih kata Katiran, bantuan sapi itu sebanyak 23 ekor, jantan 3 ekor, betinanya 20 ekor, tapi sampai sekarang ia tidak tahu lagi terkait bantuan tersebut. “Maka saya sangat senang sekali kalau bantuan tersebut diangkat, kemudian disidak oleh pemerintah karena apapun itu adalah uang negara, jangan Dinas hanya menerima laporan administrasi aja kalau cuma terima laporan semua pasti bagus lah bahkan saya pernah dengar infonya ada 60 ekor lebih sapi di Pekon Tanjung Anom,” jelasnya.
“Tapi saya gak yakin kalau ada 60 ekor sapi di Pekon Tanjung Anom, apalagi kalau 60 ekor sapi itu hasil pengembangan dari kelompok yang memelihara sapi bantuan, namun kalau memang benar benar dikembangan bantuan tersebut bisa lebih, makanya ada baiknya pihak Dinas Peternakan harus sidak, kumpulkan semua sapi bantuan tersebut di lapangan biar masyarakat juga tau, kalau memang benar ada 60 ekor hasil pengembangan ya Alhamdulillah, tapi sebaliknya jika mereka tidak bisa membuktikan, artinya ada indikasi mark up laporan administrasi dan itu ada pidananya,” ucapnya.
Lanjut Katiran , kemudian untuk tiga ekor pejantan sapi itu sekarang dikemanakan, kalau ada bahasa peremajaan, lalu sisa dari peremajaan itu dikemanakan, apalagi kalau Bapak Ayo bilang pejantannya dua ekor, itu tidak benar karena sangat jelas bantuan sapi yang ada di Pekon Tanjung Anom ada 23 ekor sapi 20 ekor sapi betina dan 3 ekor sapi jantan.
“Untuk lebih jelasnya lagi kalau keterangan Pak Ayo hanya dua ekor sapi jantan lalu yang satu ekornya kemana, sapi ini kan bantuan pemerintah kalau hilang satu ekor dan kelompok gak bisa menjelaskan, lalu pertanyaannya kemanakah satu ekor sapi jantan tersebut,” pungkasnya.
Di tempat terpisah, Sarno salah satu warga yang memelihara sapi bantuan saat dikonfirmasi awak media dutapublik di kediamannya mengatakan hal yang sama. “Awal datang bantuan sapi itu di tempatnya pak Katemin dan jumlahnya kalau gak salah 23 ekor, 20 ekor sapi betina 3 ekor sapi jantan, sekarang saya gak tau lagi siapa yang memelihara sapi jantan tersebut,” ujar Sarno.
“Memang kalau saya memelihara sapi bantuan ini dari awal, karena saat kita terima sapinya masih kecil kecil, kaya gak mau hidup dan setelah besar lama juga gak hamil hamil maka sampai sekarang sapi bantuan yang saya rawat ini baru dua kali beranak adapun aturannya anak pertama diserahkan kelompok ke kita tapi kalau untuk anak ke dua itu baru kita setor 30% ke kelompok,” pungkas Sarno. (Sarip)



