dutapublik.com, JAKARTA – Dalam kesempatan ini pengamat kebijakan publik dan pemerintah Bambang Priyatno Gunawan mengatakan mengapa praktik politik demokrasi di Indonesia sekarang ini semakin rapuh? Hal ini karena kelengahan rakyat yang telah memilih pengelola kekuasaan negara yang sekarang ini disinyalir telah menjadikan rakyat menderita dan sengsara.

Pengamat Kebijakan Publik Bambang Priyatno Gunawan
Perlu diketahui saat ini publik telah melihat terjadinya suatu peristiwa dugaan permainan kotor politik tingkat tinggi yang belum lama ini terjadi di Desa Wadas yang bergejolak dan menurut salah satu Pengamat mengatakan sosok Ganjar Sudah Kehilangan Kredibilitas dan tak bisa dipercaya lagi.
Serta menurut informasi yang beredar jika tuntutan warga Desa Wadas Kecamatan Bener, Purworejo, Jawa Tengah tak kunjung dipenuhi, mereka diyakini akan terus menolak sosok Ganjar Pranowo.
Pertanyaannya kata Bambang apakah itu benar rakyat menolak kehadiran Ganjar Pranowo di Desa Wadas?
“Rakyatlah yang akan menentukan hitam dan putihnya panggung Sandiwara yang telah di mainkan oleh politik yang kurang baik dan tentunya rakyat akan menjadi korbannya,” ijarnya.
Perlu diketahui hadirnya Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo mengunjungi Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo itu adalah “Vox populi, vox dei” Suara rakyat adalah suara Tuhan. Daulat rakyat tak akan terwujud hanya karena ungkapan semata dan perlu dipahami hadirnya Ganjar Pranowo mengunjungi Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo membuat suasana menjadi sangat kondusif.
Dan hal itu juga dikatakan oleh Sri Yono. Beliau menyatakan dengan kehadiran GP di desa Wadas, adalah merupakan suatu bukti bahwa GP sangat memperhatikan dan perduli dengan masyarakat Jawa Tengah.
Konflik dengan pihak petugas / aparatur dari Pemerintah dengan masyarakat yang terjadi di desa wadas dapat meredam bahkan menyelesaikan konflik tersebut walaupun masih ada sedikit masyarakat yang menolak, ini adalah adalah bukti nyata bahwa sosok/figur GP sebagai pemimpin yang mampu mendengarkan dan mengayomi masyarakat Jawa Tengah secara umum dan luas dimana bentuk tanggung jawab sebagai seorang gubernur dalam upaya meredam konflik yang terjadi di desa wadas dapat diterima oleh masyarakat.
“Ganjar Pranowo bertemu dengan sejumlah masyarakat Desa Wadas yang setuju tanahnya dijual untuk pembangunan Bendungan Bener Wadas,” ujar Bambang
Oleh karena itu yang dimana Ganjar mengatakan, kunjungannya bertujuan untuk berdialog dengan Kapolda dan warga setempat yang dimana dirinya juga ingin memastikan agar kerukunan tetap terjalin disana.
Menurutnya berita yang tersebar di luar itu seram banget. “Insya Allah tidak seperti itu.Maka saya hari ini ke Wadas untuk menengok secara langsung,” terang Ganjar,
Oleh karena itu atas kemufakatan Ganjar dengan Kapolda Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebanyak 64 warga Desa Wadas, Purworejo yang ditangkap oleh pihak kepolisian, hari ini telah dipulangkan.
Ganjar juga berpesan pada warga Wadas untuk menjaga kerukunan dan saling menghormati. Meski ada pihak pro dan kontra, namun relasi masyarakat tidak boleh terpecah.
“Sing penting rukun ya, ada yang setuju, ada yang tidak setuju tidak apa-apa. Yang penting rukun. Kalau rukun kan enak, agar persaudaraan tetap terjaga.”
Oleh sebab itu lanjut Bambang kelengahan rakyat yang telah memilih pengelola kekuasaan negara seperti sekarang ini akan berakibat dan yang terjadi rakyat menuai derita dan sengsara.
Untuk itu derajat sosok seseorang Ganjar
dan adanya kemuliaan suara rakyat dijunjung tinggi setara dengan kuasa ilahiah yang disebut suara rakyat adalah suara Tuhan (Vox Populi, Vox Dei).
“Namun suara rakyat yang disinggung sedemikian tinggi dan dipercayakan kepada para wakil rakyat dan para penguasa negara serta pemangku kebijakan sekarang ini ternyata berbalik seribu derajat tong kosong berbunyi nyaring,” ucap Bambang Priyatno Gunawan.
Namun rakyat dengan kehidupan yang sekarang ini dan didalam sebuah perkembangannya, membutuhkan seorang sosok yang disebut dengan istilah suara ‘rakyat adalah suara Tuhan’ yang dimana rakyat mempertaruhkan nasib dan masa depannya kepada mereka ikut menempel ke panggung politik dan kehendak rakyat mayoritas akan sangat menentukan dalam suatu proses politik atau pemilihan umum.
Begitu kuatnya kehendak rakyat itu, maka tak ada kekuatan lain yang secara moral bisa membendungnya
mengganjar mereka dengan martabat, kehormatan, dan otoritas politik agar kekuasaan dikelola guna mewujudkan kesejahteraan bersama.
yang akan diterima oleh rakyat sendiri. (SS)





