Polemik Perpecahan Di Tubuh KNPI, Larshen Yunus: Di Lapangan Dominan Praktik Transaksional Dan Akal Bulus

415

dutapublik.com, JAKARTA – Polemik tentang perpecahan Pemuda di tubuh induk Organisasi Kepemudaan (OKP) di negeri ini masih menjadi tanda tanya. Pasalnya, berbagai macam kelompok mengklaim pihaknya sebagai solusi untuk mempersatukan, baik itu melalui kongres penyatuan KNPI maupun dengan alasan lainnya.

Seperti yang saat ini terjadi, ada beberapa kelompok yang dengan peliknya menyelenggarakan kongres, baik itu di Jakarta, Solo, Lombok maupun di Maluku Utara.

Banyak pihak berharap Putra Mahkota Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo yang maju guna mempersatukan pemuda. Namun ternyata nama Gibran Rakabuming Raka tak laku dijual.

Begitupula dengan nama-nama beken lainnya, yang berasal dari golongan keluarga pejabat tinggi di negeri ini. Anak Menteri, Anggota DPR RI maupun anak Pengusaha besar, sama sekali tak laku dijual dan diperjuangkan menjadi simbol persatuan.

Hal itu bukan tanpa sebab, melainkan justru lebih kepada pemahaman, Ikhwal dan Substansi tentang Esensi berorganisasi, argumentasi dan semangat untuk benar-benar berjuang mempersatukan Pemuda.

Dalam Arena Kongres ke XVI di Jakarta, sudah semestinya calon Ketua Umum DPP KNPI tidak dilihat dari seberapa kuatnya dalam menopang pendanaan, tetapi justru ada alasan yang lebih penting lagi, agar Praktik Transaksional tidak selalu dijadikan budaya dalam Hajatan Besar Pemuda tersebut.

Adalah Larshen Yunus, Pemuda, Putra dan Anak Jati dari Provinsi Riau itu dinilai mampu hadir dalam memenuhi kriteria untuk menjadi Ketua Umum DPP KNPI selanjutnya.

Larshen Yunus yang juga saat ini menjabat sebagai Ketua DPD KNPI Provinsi Riau, ditaksir menjadi solusi yang paling tepat dalam mempersatukan Pemuda. Alasannya lebih kepada pemahaman tentang Substansi dalam menjalankan perjuangan di tubuh induk organisasi kepemudaan seperti KNPI.

Ditemui pada saat berada di Lobby Hotel Atlit Century Park Jakarta Pusat, pada Jum’at (8/4), Larshen Yunus yang saat ini berusia 30 tahun mengatakan, bahwa dirinya sama sekali belum tertarik untuk menjadi Ketua Umum DPP KNPI, karena bagi Alumni Sekolah Vokasi Mediator Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu, KNPI masih diisi oleh mayoritas kelompok-kelompok yang Transaksional dan sarat akan intrik akal bulus.

“Embel-embel kalimat dan bahasa Kongres Satu, Kongres KNPI Penyatuan sepertinya hanya isapan jempol saja. Hal itu terlihat jelas dari situasi, kondisi dan fakta di lapangan. Bahwa yang lebih dominan adalah justru Praktik Transaksional dan Akal Bulus. Puluhan OKP dan DPD KNPI tingkat Provinsi yang mendaftar, lengkap dari sisi Administrasi, namun faktanya minim kegiatan di lapangan.”

“Kami pastikan, bahwa dari sekian banyak OKP yang mendaftar, justru lebih banyak yang jalan di tempat alias hanya digunakan untuk Transaksional pemberian suara. Ketimbang kegiatan yang ril di lapangan,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat Ketua DPD KNPI Provinsi Riau itu mengurungkan niatnya untuk mewakafkan diri menjadi Ketua Umum DPP KNPI.

“Alasannya sangat jelas, bahwa faktanya semangat persatuan pemuda lewat KNPI masih mimpi di siang bolong,” ujarnya.

Larshen Yunus pastikan, bahwa kehadiran belasan rombongan KNPI Provinsi Riau dalam mengikuti Kongres ke XVI semata-mata hanya untuk merawat silaturahmi dan melihat sekaligus menyaksikan panggung sandiwara (Dramaturgi) Pemuda yang melebihi seorang Politisi Ulung di Negeri ini.

“Sikap kami sangat jelas, bahwa Aspirasi untuk mendorong kami menjadi Ketua Umum DPP KNPI sementara ini disimpan dulu. Terima kasih buat teman-teman yang punya niat baik dan akal cerdas dalam melihat situasi ini. Yakin dan percayalah, cepat atau lambat KNPI akan bersatu. Tinggal bagaimana Pemerintah sebagai orang tua kandung KNPI benar-benar hadir untuk mempersatukan.”

“Jangan justru ada isu, bahwa Pemerintah senang, bahagia dan sarat akan pembiaran sekaligus merasa beruntung dengan situasi perpecahan saat ini. Karena dengan mudahnya memberikan alasan untuk tidak menyalurkan Anggaran bagi Porsi Pemuda lewat KNPI,” imbuhnya.

Sampai berita ini dipublikasikan, Larshen Yunus menegaskan sekali lagi, bahwa saat ini dirinya tidak ingin maju sebagai Ketua Umum DPP KNPI.

“Kalau pada akhirnya ukuran dari semua ini hanya uang dan Transaksional, maka lebih baik kami salurkan untuk membantu pemerintah dalam melawan para Spekulan. Negeri ini masih berkutat dengan langka dan mahalnya Minyak Goreng, Bio Solar dan Jenis-Jenis Sembako lainnya. Lebih baik uang milyaran rupiah ini kami salurkan untuk membantu Pemerintah, ketimbang habis percuma hanya untuk Kongres KNPI seperti ini, penuh intrik dan sandiwara, melebihi seorang politisi ulung yang berkegiatan sampai larut malam, giliran bangun tidur sudah kesiangan.”

“Apakah itu yang dinamakan pemuda? ini tak seperti yang diharapkan Bung Karno dan Bung Hatta, bahwa pemuda harus mengguncang dunia, bukan berkegiatan di malam hari, macam Kelelawar saja,” tegasnya. (Rahman)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *