Prawita GENPPARI Dorong Pemanfaatan Lahan Untuk Apotek Hidup Di Lingkungan Warga

170

dutapublik.com, BANDUNG – Sabtu (1/3) “Kemajuan teknologi merupakan sebuah fakta yang tidak bisa dihindari dan berdampak luas terhadap perubahan pola hidup umat manusia. Secara teoritik, setiap perubahan tentu akan berdampak positif bagi yang mampu memanfaatkannya dengan benar, tetapi bisa juga berdampak terhadap perubahan perilaku yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental dan psikis.

Di lain sisi, pelayanan kesehatan juga bukan hal yang mudah karena tidak sedikit yang membutuhkan biaya pengobatan yang mahal. Sementara itu, di setiap lingkungan warga terkadang terdapat beberapa lahan tidur atau nonproduktif. Inilah yang menjadi dasar pemikiran mengapa Prawita GENPPARI senantiasa mendorong pemanfaatan lahan nonproduktif untuk mengembangkan apotek hidup,” ucap Ketua Umum DPP Prawita GENPPARI, Dede Farhan Aulawi, di Bandung, Sabtu (1/3).

Hal tersebut ia sampaikan ketika dirinya bersama tim DPP Prawita GENPPARI mengunjungi apotek hidup di Kampung Manggun Lebak, Kabupaten Bandung. Menurutnya, upaya penanaman apotek hidup di lingkungan warga merupakan salah satu cara efektif dalam mendukung perbaikan kesehatan masyarakat, khususnya di lingkungan masing-masing, baik di tingkat RT maupun RW.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa apotek hidup merupakan pemanfaatan sebagian tanah atau lahan sisa untuk ditanami tanaman yang memiliki manfaat untuk kebutuhan sehari-hari. Pemberdayaan masyarakat dalam penanaman apotek hidup di lingkungannya tidak hanya bertujuan untuk penyediaan bahan obat-obatan, tetapi juga sebagai upaya menjaga kesehatan lingkungan masyarakat.

Selanjutnya, ia menambahkan bahwa banyak obat-obatan tradisional yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Umumnya, obat tradisional lebih aman dibandingkan obat-obatan buatan pabrik karena bersifat alami dan memiliki efek samping yang lebih sedikit. Tanaman apotek hidup atau tumbuhan obat mencakup semua bagian tumbuhan, seperti batang dan akar, baik itu tanaman budidaya maupun nonbudidaya, yang berkhasiat sebagai obat dan dapat digunakan sebagai bahan mentah pembuatan obat modern maupun tradisional.

Kemudian, ia juga menjelaskan beberapa jenis tanaman apotek hidup dan khasiatnya dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya, serai (Cymbopogon citratus), kumis kucing (Orthosiphon aristatus), kencur (Kaempferia galanga), kunyit (Curcuma longa), jahe (Zingiber officinale), temulawak (Curcuma xanthorhiza), dan sirih (Piper betle).

“Program apotek hidup bertujuan melestarikan budaya menanam tanaman-tanaman yang bermanfaat agar tidak punah di tengah perkembangan zaman. Dengan demikian, perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat dalam penanaman apotek hidup guna meningkatkan partisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan, membangun serta mengoptimalkan karakter tanggung jawab, dan mendukung perbaikan kesehatan masyarakat secara efektif,” pungkasnya. (Yasin Al Amin)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *