Rajo Alam Luhak Nan Tigo, Tubagus Dato Pesisir Ahmad Abdari Lakukan “Manikam Jajak” Sejarah Bumi Minangkabau

391

dutapublik.com, PADANG – Pada Sabtu, 8 Februari 2025, Rajo Alam Luhak Nan Tigo melakukan kegiatan silaturahmi ke Kantor Wali Nagari Tanjung Alam, Batusangkar. Rajo Alam hadir bersama rombongan yang terdiri dari keluarga besar, termasuk anak dan istri dari Pekanbaru, serta Mak Yan dari Tarusan, Agam. Turut mendampingi, Inyiak Afrizal Can St. Rajo Mudo Pandeka Rajo Api, Asder Calvin (Datuk Bandaro Rajo), Hardianto (Datuk Yan Basa), Edi Suantra (Datuak Talangik), Indra Gunawan (St. Bandaro Sati/Datuak Alam Sati), Tuan Guru Musrizal (Duri), Guru Deni, Guru Tina, Guru Naufal, serta para pesilat PPS Talago Biru Indonesia dari Pasaman dan Maninjau.

Kedatangan Rajo Alam Luhak Nan Tigo disambut hangat oleh Wali Nagari Tanjung Alam, Khadiman Datuk Si Marajo Nan Kayo, serta Sy. Datuk Manjo Dirajo selaku Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Tanjung Alam. Hadir pula Dek Minil Datuk Gunung selaku anggota KAN, para pengurus, ninik mamak, dan tokoh masyarakat setempat.

Kunjungan Rajo Alam ke Tanjung Alam bertujuan untuk mempererat silaturahmi dengan para pemangku adat setempat. Dalam suasana penuh keakraban, Wali Nagari Tanjung Alam menyampaikan rasa bangga dan bahagia atas kedatangan Rajo Alam beserta rombongan. “Kami sangat bangga dan senang atas kedatangan Rajo Alam ke sini. Kami juga memohon maaf jika ada kekurangan dalam penyambutan dan jamuan kami,” ujar Wali Nagari Tanjung Alam.

Dalam kesempatan yang sama, Rajo Alam menjelaskan maksud kedatangannya. “Kami datang untuk menjalin silaturahmi dan membawa serta para guru-guru tuo silek PPS Talago Biru Indonesia,” ungkapnya.

Dalam pertemuan tersebut, berlangsung sesi tanya jawab antara Rajo Alam dengan ninik mamak dan para datuk yang hadir.

Datuk Bandaro Rajo (Calvin) dengan tenang menjelaskan silsilah Rajo Alam dan hubungannya dengan sejarah Minangkabau.

“Beliau, Rajo Alam, adalah keturunan dari Datuk Pesisir. Datuk Pesisir adalah tokoh yang memiliki Silek Taralak (Jatan/Batino). Minangkabau merupakan bangsa yang besar, dan nama ‘Minangkabau’ sendiri berasal dari Al-Mukminan-Kannabawiyah, yang berarti negeri yang telah memiliki adat seperti cara Nabi. Oleh karena itu, orang Minang seharusnya bangga akan hal ini,” jelas Datuk Bandaro Rajo.

Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa Rajo Alam merupakan keturunan dari tiga garis darah atau dikenal sebagai tiga luhak/peradaban.

1. Darah Datuk Pesisir/Datuk Sri Dewa Raja

Datuk Sri Dewa Raja adalah kepala suku pesisir di Kerajaan Siak Sri Inderapura yang didirikan oleh Raja Kecik dari Pagaruyung, yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah atau dikenal sebagai Marhum Buantan.

Datuk Sri Dewa Raja I (Encik Syawal) adalah anak dari E. Sahid Panglimo Hulubalang/Tuan Gadang dari Basa Ampek Balai, Kerajaan Pagaruyung.

Tuan Gadang merupakan keturunan dari Datuk Sri Maharajo Nan Banegonego (Tuanku Lareh Nan Panjang/Datuk Nan Sakelab Dunie).

2. Darah Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah

Sultan Muhammad Ali adalah Sultan ke-5 Kerajaan Siak Sri Inderapura. Ia menikah dengan anak dari Datuk Pesisir/Datuk Sri Dewa Raja, memperkuat hubungan darah antara keluarga kerajaan dan kaum adat Minangkabau.

3. Darah Kesultanan Banten

Dari garis ibu, Rajo Alam memiliki keturunan dari Syekh Asnawi Caringin Banten, seorang ulama besar. Syekh Asnawi merupakan keturunan dari Sultan Agung Mataram di pihak ayah, dan Sultan Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) di pihak ibu, yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah.

Datuk Bandaro Rajo juga menjelaskan peran besar Datuk Sri Maharajo Nan Banegonego dalam sejarah Minangkabau. Ia adalah saudara dari Datuk Perpatih Nan Sebatang, anak dari Cati Bilang Pandai dan Puti Indo Jelito.

Setelah pembagian tiga laras di Alam Minangkabau, wilayah yang dipimpinnya, Laras Nan Panjang, mencakup Agam, Pasaman, hingga Pesisir Barat Sumatra dari Aceh hingga Lampung. Beliau membuka wilayah Lubuk Sikaping bersama anaknya, Puti Sangko Bulan, yang kemudian menikah dengan Raja Syahbandar dari Champa.

Salah satu keturunan Puti Sangko Bulan, Sultan Sri Alam Banio Tinggi, menjadi cikal bakal Kerajaan Rokan. Datuk Sri Maharajo Nan Banegonego juga memperluas wilayahnya hingga Teluk Airpura/Indropuro/Inderapura, di mana ia menikahi seorang putri setempat dan menjadi Sultan dengan nama Sultan Muhamad Syah/Sultan Johan Berdaulat Fil ‘Alam/Raja Nan Panjang/Raja Berdarah Putih.

Salah satu keturunannya yang terkenal adalah Sultan Jamalul Alam YDD Sultan Sri Gegar Alamsyah Sultan Muhamad Syah Tuanku Berdarah Putih, yang kemudian mengubah nama Kerajaan Teluk Airpura menjadi Kesultanan Inderapura.

Datuk Bandaro Rajo menegaskan bahwa seluruh suku dan kerajaan di Nusantara memiliki hubungan kekerabatan yang erat, terutama melalui pernikahan nenek moyang. “Sudah cukup kita terjebak dalam isu kesukuan. Itu hanya membuat perpecahan bangsa, seperti yang diinginkan penjajah terdahulu. Kita adalah bangsa yang besar dan kaya, itulah mengapa banyak pihak ingin menguasai negeri kita,” tambahnya.

Pemaparan sejarah yang mendalam ini membuat seluruh hadirin terpukau. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebelum Rajo Alam Luhak Nan Tigo, Tubagus Dato’ Pesisir Ahmad Abdari melanjutkan kunjungannya ke Istana Basa Pagaruyung. (NH)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *