dutapublik.com, JAKARTA – Praktik tambang ilegal di Jawa Timur semakin menjadi sorotan. Di tengah kerusakan lingkungan yang terus meluas, muncul pertanyaan serius: apakah hukum benar-benar ditegakkan, atau justru tunduk pada kekuatan di balik layar?
Isu yang beredar menyebutkan bahwa aktivitas tambang ilegal diduga “dikuasai” dan dilindungi oleh oknum berpengaruh, termasuk pihak yang memiliki latar belakang militer berpangkat tinggi. Kondisi ini disebut-sebut menjadi penyebab lambannya penindakan di lapangan, bahkan terkesan mandek.
Menanggapi situasi tersebut, Titiek Soeharto angkat bicara. Dengan nada tegas, ia menantang aparat penegak hukum untuk tidak gentar menghadapi siapa pun yang berada di balik praktik ilegal tersebut. “Kalau itu melanggar hukum, bersihkan. Jangan takut, siapa pun yang membekingi,” tegasnya, Selasa (21/4).
Pernyataan tersebut bukan sekadar imbauan, melainkan kritik keras terhadap lemahnya penegakan hukum yang dinilai belum menyentuh aktor-aktor besar di balik tambang ilegal.
Di sisi lain, komitmen pemerintahan Prabowo Subianto dalam memberantas kejahatan sumber daya alam kini diuji. Penegakan hukum terhadap perusakan hutan dan tambang ilegal dituntut tidak berhenti pada pelaku lapangan, tetapi harus berani mengungkap jaringan hingga ke level elite.
Sorotan publik kini tertuju pada kinerja kepolisian di bawah kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Mampukah institusi ini membuktikan independensinya, atau justru kembali terjebak dalam tarik-menarik kepentingan?
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa aktivitas tambang ilegal di sejumlah wilayah Jawa Timur masih berlangsung secara terbuka. Alat berat beroperasi, distribusi material berjalan, sementara dampak ekologis terus meningkat, mulai dari kerusakan hutan, pencemaran air, hingga potensi bencana.
Jika benar terdapat “tameng kekuasaan” di balik praktik ini, maka persoalan tambang ilegal bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, melainkan ujian serius bagi supremasi hukum di Indonesia.
Publik kini menunggu: apakah aparat berani menembus lingkaran kekuasaan, atau kembali berhenti di permukaan? (Uya)





