dutapublik.com, PONTIANAK – Media Online Tugu Kalbar bersama Liga Mahasiswa Nasdem (LMN) sukses gelar kegiatan diskusi yang dilaksanakan bekerjasama dengan komunitas relawan Bang Doel dan Liga Mahasiswa Nasdem (LMN), Minggu (31/10). Dalam kegiatan ini hadir narasumber Bapak Syarif Abdullah Alkadri, S.H., M.H., Wakil Ketua Komisi V DPR RI. Adapun moderator dalam kegiatan tersebut Hasan Basri, Wakil Sekretaris IKBM Pontianak dan juga Sekretaris I, PW IKA PMII Kalbar.
Adapun peserta diskusi terdiri dari berbagai elemen masyarakat, hadir diantaranya Ketua IPPNU Kota Pontianak, Ketua IPNU Kubu Raya, Ketua IKBM Kota Pontianak, Ketua Ikatan Pemuda Dayak Kubu Raya, beberapa kepala desa, sekretaris desa, pengurus karang taruna di beberapa desa, komunitas pelajar dan mahasiswa yang ada di Kota Pontianak dan Kubu Raya.
Berdasarkan absensi peserta, jumlah perwakilan pemuda dan masyarakat yang hadir berjumlah sekitar kurang lebih 75 orang. Acara yang dlaksanakan di kafe campus, komplek auditorium Untan ini berjalan secara natural. Peserta, panitia dan narasumber membaur layaknya acara kekeluargaan tanpa sekat sosial dalam diskusi tersebut.
Hasan Basri selaku moderator dalam pesan pembuka menyampaikan dalam proses politik, terdapat kelompok-kelompok di tengah masyarakat yang dapat menentukan tinggi rendahnya tingkat partisipasi politik. Salah satunya adalah anak-anak muda. “Kelompok generasi Z yang biasa disebut generasi Milenial. Generasi Z mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga tahun 2012 (berusia 9-24 tahun). Sementara generasi Milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981 hingga tahun 1996 (berusia 25-40 tahun),” urainya.
“Menurut data BPS tahun 2020, generasi Milenial cukup banyak, yakni berjumlah 69,90 juta jiwa atau setara dengan 25,87 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 270,2 juta jiwa. Angka ini, di samping karakter generasi Milenial itu sendiri, merupakan faktor signifikan dalam proses politik di Indonesia.”
Sebagai Kaum Milenial yang aktif dalam proses politik di sosial media, hampir setiap isu yang ada di sosial media selalu mendapatkan komentar dari kalangan milenial. Namun, mereka sangat jarang bisa diajak untuk berdiskusi secara langsung (verbal).
“Aspirasi mereka lebih enak disampaikan melalui sosial media. Ini terkait dengan karakteristik milenial yang merupakan kaum muda era masa kini, yakni individualis,” sambungnya.
Syarif Abdullah menyampaikan bahwa peranan millenial di Indonesia sangat penting dalam menentukan arah kehidupan bernegara dan berbangsa. Hal ini bisa dilihat dari pra dan pasca kemerdekaan Indonesia, dimana kaum muda yang saat itu disebut millenial menjadi garda terdepan dalam memerdekakan Republik Indonesia.
Ami Dullah, panggilan Syarif Abdullah memotivasi para peserta diskusi agar aktif dalam berpartisipasi dalam segala hal, apalagi di era demokrasi terbuka yang berlaku sejak 1998.
“Partisipasi anak muda menjadi sangat penting. Karena sebagai negara demokrasi, Jantung dari teori dan praktik demokrasi adalah partisipasi aktif warga negara dalam setiap proses politik,” tuturnya.
“Tanpa partisipasi warga, demokrasi dapat dibilang sudah mati. Beruntunglah detakan jantung demokrasi di Indonesia masih berpacu seiring tetap tingginya partisipasi politik masyarakat. Hal ini misalnya bisa dilihat dari laporan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada pemilu tahun 2019. Menurut KPU angka partisipasi pemilih pada pemilu 2019 mencapai 81 persen,” paparnya.
Lebih lanjut Syarif Abdullah menjelaskan, umumnya, partisipasi politik diukur dari tingkat keikutsertaan dalam pemilu atau pilkada. Namun tentu saja partisipasi dalam pemilu atau pilkada hanya salah satu bentuk dalam proses politik. Masih banyak bentuk partisipasi politik lain dalam proses politik, seperti menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, membangun opini publik melalui media, ikut serta dalam forum pemilihan ketua RT, dan lain sebagainya.
Menanggapi berbagai pertanyaan peserta terkait peranan sosial media dan UU ITE, Abdullah menyampaikan peranan sosial media sendiri sangat penting di era demokrasi saat ini, tanpa sosial media serta media cetak dan elektronik lainnya, seseorang bukanlah siapa-siapa.
Elektabilitas dan popularitas seseorang bisa terdongkrak karena pengaruh media. Untuk menyikapi isu seputar hoax di sosial media, anak muda diminta untuk selektif membaca informasi yang masuk. Karena arus informasi di era digital saat ini tak bisa terbendung walaupun berbagai UU sudah disahkan untuk menjaga etika bersosial media.
Sebagai penutup diskusi, ketua panitia bersama peserta dan narasumber mengumandangkan sumpah pemuda secara bersama sama. Hal ini dilakukan karena diskusi milenial ini masih dalam suasana hari sumpah pemuda dan dihadiri kaum millenial. (Abshor)





