dutapublik.com, JAKARTA – Polemik berkepanjangan yang digulirkan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia) di dalam Pemecatan Letjen TNI Dr. dr. Terawan Agus Putranto Spesialis Rontgen yang juga mantan Direktur Rumah Sakit Pusat TNI AD (RSPAD) Gatot Soebroto sangatlah memprihatinkan.
Hal ini membuat kegaduhan dan sakwasangka dan preseden buruk akan tingkat kepercayaan masyarakat tentang penanganan kasus ini yang seolah ada kesan pembiaran kasus dengan interpretasi masing-masing individu.
Sebenarnya sosok Terawan adalah sosok Akademisi yang santun, kreatif dan terbuka untuk diajak diskusi. Tidak ada kesan kepanikan timbul di wajahnya terkait imbas Pemecatannya dari IDI dengan dalil menyalahi Kode etik Kedokteran.
Menurut Pengamat Politik, Bernard BI. Siagian, dalam kasus ini PB IDI terkesan curiga bahwa Terawan melakukan sesuatu yanb berbau mal praktek dan tidak dapat diterima oleh akal sehat dan logika berpikir Sistem Kedokteran Cara Barat yang dianut di Indonesia.
“Metode Cuci Otak “DSA” Brain Washing Stroke yang diakui testimoninya oleh ribuan pasiennya yang tertolong dari ancaman kematian, lumpuh atau hanya menyong dan vertigo,” kata Bernard beberapa waktu lalu.
Bahkan kata Bernard, beberapa dokter mengatakan pihak Jerman dan Jepang sedang berupaya untuk MoU atau kerja sama belajar teknik metodologi Cuci Otak DSA Ala Terawan sekaligus merayu untuk membeli Hak Ciptanya.
“Temuan yang menghebohkan Dunia Kedokteran ini hingga Masyarakat Eropa berbondong-bondong para lansianya ikut semacam paket pengobatan di Klinik RSPAD DSA Brain Washing ala Terawan.
“Harusnya pihak Asosiasi IDI berpikiran positif disiniĀ tanpa mencari manfaat Politik Praktis. Untuk mencari Panggung dengan sesuatu yang melanggar norma-norma Falsafah Pancasila dan UUD 45 sebagai tolak ukur untuk menghargai setiap Prestasi Warga Negara Indonesia dari latar belakang apapun. Dan juga PB IDI harusnya duduk manis bersama Para Anggota DPR dan Kemenkes RI untuk dicarikan solusi arif dan bijaksana berdasarkan Pancasila dan UUD 45,” sambungannya.
“Termasuk pembahasan temuan Vaksin Covid-19 Nusantara yang membanggakan Rakyat Indonesia dikarenakan rasa ketakutan masyarakat awam akan vaksinasi Covid-19 dari luar yang dicanangkan Gratis oleh Pemerintah yang Programnya sudah mencapai angka cakupan Booster .bagi seluruh masyarakat, termasuk yang dicurigai mengandung Penyakit Penyerta atau Komorbid sudah seyogyanya memakai Vaksin Nusantara Produk Dr Terawan,” ujarnya.
Hal inilah menurut keterangan Dokter-dokter di RSPAD tersebut yang memicu persaingan bisnis, kecemburuan sosial, hingga berujung kepada Pembunuhan Karakter seorang Dokter Berprestasi dan murah senyu. Terawan Agus Putranto.
“Alhasil ketidakharmonisan situasi ini seperti halnya ketika Negara Jiran Malaysia mengakui beberapa Budaya Nasional dan makanan Tradisional serta lagu-lagu kedaerahan menjadi Hak Intelektual /HAKI Budaya mereka saat kelemahan Presiden Era yang lalu membiarkan saja demonstrasi masa di kedutaan Malaysia. Oleh karena hal-hal tadi karena takutnya dengan Arogansi Super Body organisasi Tunggal warisan Orde Baru yang dikenal dengan Ikatan Dokter Indonesia itu,” ungkapnya.
Maka polemik berkepanjangan ini kata Bernard akan dimanfaatkan barisan-barisan tertentu untuk mengacaukan Pemerintahan Kabinet Indonesia Maju Presiden Jokowi dan KH. Maruf Amin untuk mencari Panggung Politik Praktis. (Uya)


