dutapublik.com, MINAHASA – Jumat, (19/11) kemarin di ruang kerjanya Kepala SMP Negeri 2 Tondano, Kabupaten Minahasa Ibu Charlota Joselin Ngangi, M.Pd., menyampaikan flash back terkait suksesnya pelaksanaan UN berbasis komputer di tengah pandemi tahun 2020. SMPN 2 Tondano satu-satunya sekolah yang berhasil melaksanakannya di Kabupaten Minahasa dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.
Masih kata Charlot, pada giat Pelaksanaan Teknis pelaksanaan Asesmen SMPN 2 Tondano yang dilaksanakan pada gelombang kedua tanggal 6 hingga 7 oktober 2021 lalu tidak ada masalah mulai ujicoba, gladi bersih sampai hari H pelaksanaan. Asesmen Mandiri dilaksanakan tiga sesi dengan kapasitas masing-masing ruangan 15 peserta, satu sekolah bergabung dan diawasi pengawas dan stanby proptor sekolah dimana pembiayaan dianggarkan melalui dana BOS
“Asesmen tahun 2021 SMP Negeri 2 Tondano Kabupaten Minahasa juga berlangsung lancar hal ini tidak terlepas oleh peran dukungan guru-guru yang menguasai IT,” ujar Charlota.
Lebih jauh bahwa pelaksanaan AKN tahun ini di masa pandemi Covid-19, berbeda dengan UNBK tahun sebelumnya karena paparannya lebih open endit, tanpa lembar kertas, metodenya visual teknologi yang datanya user name dirandom pusat.
Hal ini juga didukung karena persentase Vaksinasi guru-guru dan Siswa SMPN 2 Tondano sudah sekitar 74 persen, dimana strategi Vaksinasi pihak sekolah melalui Google Form yang langsung diisi setiap siswa yang ada.
Lebih jauh diutarakan Charlota terkait Pembelajaran Daring dan Luring para guru-guru ditugaskan menyusun dokumen pembelajaran setiap weekendnya dan dimasukan ke Kepala Sekolah tujuannya menilai pembelajaran peserta didik apakah maksimal atau tidak.
“Metode Pembelajaran Merdeka Belajar dan Survei lingkungan belajar selama Daring dan Luring para guru pengajar dalam tugasnya setiap minggu update adalah menggunakan teknologi informasi yang memudahkan siswa dan guru/ pengajar agar tetap terhubung, baik di dalam maupun di luar kelas Metode pembelajaran adalah pendekatan merdeka belajar, baik itu guru dan siswa sehingga dapat mengukur masing masing kemampuan dan kompetensi anak didiknya,” urainya.
Ia menambahkan jika guru dan siswa memiliki kebebasan untuk belajar secara mandiri, maka guru harus memiliki metode dan model pembelajaran yang mendukung untuk program merdeka belajar tersebut. (EffendyV.Iskandar)





