dutapublik.com, TANGGAMUS – Pekerjaan proyek pembangunan Jalan Rigit Beton yang diduga sumber dana dari APBD Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Tanggamus, berlokasi di Tanjakan Tambrik Dusun Pematang Teba Pekon Penyandingan Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus Lampung.
Menurut warga setempat, pekerjaan tersebut menggunakan material serta pengerjaannya asal jadi. Pasalnya, Pekerjaan proyek dengan dana Milyaran tersebut yang sudah berjalan beberapa bulan ini tanpa plang informasi proyek dan pengerjaan serta material yang digunakan dinilai asal asalan.
Hal itu langsung mendapat sorotan warga setempat yang setiap hari melewati jalan tersebut, yakni warga Dusun Salong Pekon Penyandingan dan warga Dusun Lebung Sari Pekon Unggak Kecamatan Kelumbayan.
Masyarakat menilai, bahwa proyek yang dibangun Pemerintah tersebut dinilai sebagai ‘Proyek Siluman’, dikarenakan sama sekali tidak terpasang papan nama informasi proyek saat melaksanakan kegiatan.
“Proyek yang dikerjakan tanpa menggunakan papan Infomasi dikasikan sebagai trik untuk membohongi masyarakat agar tidak termonitoring besar anggaran dan sumber anggaran,” tegas salah satu warga kepada awak media, pada Minggu (3/10).
Saat awak media turun langsung memantau di lokasi proyek atas permintaan masyarakat, dari hasil pantauan memang betul tidak adanya papan informasi proyek yang dipasang di lokasi pembangunan proyek tersebut.
Terkait kejadian tersebut, awak media mencoba menanyakan ke salah seorang Pekerja tentang papan informasi proyek tersebut kenapa tidak terpasang, nampak sesama Pekerja yang berjumlah 6 orang tersebut saling menanyakan sesama mereka dan salah satu Pekerja akhirnya mengeluarkan papan informasi tersebut yang disimpan dalam tas Pekerja.
Dalam keterangan informasi tekait proyek tersebut tertulis dikelola oleh CV. Bumi Permata, dengan nilai kontrak Rp. 1.246.727.000, Nomor Kontrak 600/001/BM-06/24/2021, waktu pelaksanaan 150 hari kalender, Tahun Anggaran 2021.
Hasil Laporan masyarakat, bukan hanya tidak terpasangnya papan informasi proyek, akan tetapi pengerjaannya Juga dinilai asal asalan, terkadang dikerjakan pada malam hari dengan penerangan yang sangat minim serta material yang digunakan juga tidak sesuai standar dengan menggunakan batu Choral (Kerikil) untuk bahan cor.
Warga lainnya mengungkapkan kepada awak media, bahwa warga pernah menegur Pekerja karena melihat menggunakan material asal asalan seperti menggunakan batu Kerikil untuk bahan cor.
Tapi sangat disayangkan, ada salah seorang warga Dusun Salong yang dipercaya sebagai Pengawas Proyek tersebut, menurut Warga bukan penjelasan yang didapat malah pengawasnya marah dan tidak terima terkait teguran warga.

Keterangan Gambar 2 : Pekerjaan Rigit Beton Yang Diduga Asal Jadi
Di tempat terpisah, saat awak media mendatangi rumah kediaman Zulkarnain, S.E., selaku Kepala Pekon Penyandingan untuk menanyakan terkait proyek tersebut, Zulkarnain mengungkapkan, bahwa dirinya tidak tahu menahu tentang proyek tersebut.
Lanjut Zulkarnain, bahwa penanggung jawab proyek tersebut tidak pernah datang menemuinya untuk pemberitahuan bahwa ada pekerjaan proyek Rigit Beton dari dinas PUPR Kabupaten Tanggamus di wilayahnya.
“Terkait proyek tersebut, saya benar-benar tidak tahu. Bahkan aparat saya seperti Kadus, RT di Dusun tersebut pun mengaku tidak ada pemberitahuan dari pengelola proyek tersebut,” ungkapnya.
Zulkarnain menambahkan, bahwa dirinya pada Sabtu 2/10), mendatangi lokasi pekerjaan untuk memastikan kebenaran yang dikeluhkan oleh warga.
“Kemarin hari Sabtu 02 Oktober 2021, saya datang langsung ke lokasi, karena banyak permintaan warga saya yang meminta untuk melihat pekerjaan proyek itu, karena banyak warga yang protes dan menyebut proyek tersebut amburadul. Ternyata bukan hanya Rigit Beton, tapi ada Bokalfet, Bronjong Penahan Tebing dan Drainase,” sebutnya.
Setelah meninjau lokasi, Zulkarnain merasa kecewa dengan pekerjaan poryek yang ada.
“Jujur saya kecewa dengan hasil kerja yang sudah ada, pemasangan Bronjong juga asal pasang, karena Bronjong tidak terisi penuh batu, juga besar lobang Bronjong dari pada batunya, bahkan saya tegas meminta pekerja untuk sementara pekerjaan di stop kalau masih seperti itu.”
“Bukan kami tidak berterima kasih dengan dibangunnya jalan kami, kami sangat berterima kasih, akan tetapi harus dengan maksimal sesuai aturan dengan nilai yang mencapai milyaran rupiah,” ujarnya.
Zulkarnain, selaku Kepala Pekon Penyandingan dan juga warga masyarakat Dusun Salong dan Dusun Lebung Sari Pekon Unggak, meminta kepada Dinas terkait untuk turun kelapangan untuk mengawasi proyek yang ada di Dusun Pematang Teba menuju Dusun Salong tepatnya di Tanjakan Tambrik tersebut. Agar supaya bekerja sesuai standar untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
“Harapan kami sebagai warga, menuntut kepada pengelola proyek tersebut untuk dikerjakan secara maksimal. Karena kami sadar tidak gampang untuk mendapatkan pembangunan dari Pemerintah.”
“Apalagi tempat kami ini di pelosok juga lokasinya di pegunungan. jangan sampai terjadi seperti proyek Rigit di jalan Batang Teba tahun kemarin, baru 1 tahun sudah hancur karena kurangnya pengawasan dari Dinas, akhirnya di kerjakan asal jadi” terang salah seorang warga Dusun Lebung Sari.
Hingga berita ini dipublikasikan, belum ada pihak pengelola yang bisa untuk dimintai keterangan. karena pengawas yang menurut pekerja bernama Tikno, adalah pengawas dari Dinas PU (Pekerjaan Umum) Kabupaten Tanggamus yang tinggal di Pringsewu jarang ke lokasi proyek, pun begitu dengan Basuki selaku Konsultan. (Sarip)






