LSM WGAB Apresiasi Polres Madina Tutup Lokasi Uji Ketangkasan Pasar Malam

428

dutapublik.com, MADINA – Rasa salut disampaikan oleh berbagai pihak kepada pihak Kepolisian Resort (Polres) Mandailing Natal (Madina) yang telah tanggap dengan laporan tentang dugaan adanya praktek perjudian berkedok uji ketangkasan di pasar malam Martin Perdana Bandung (Pengelola Pasar Malam) yang ada di Desa Sarak Matua, Panyabungan, Madina Sumut.

Hal itu salah satunya diungkapkan Ketua Korwil 3 Sumut sekaligus Ketua DPC LSM-WGAB (Wadah Generasi Anak Bangsa) Kabupaten Madina Mulyadi P Jambak di kantornya, Minggu, (30/4).

“Pasar malam yang beroperasi mulai akhir Ramadhan (menjelang lebaran) dinilai sangat banyak menguntungkan masyarakat sekitar begitu juga penarik becak,” tambah Mulyadi.

Dijelaskan Mulyadi, dengan penutupan permainan uji ketangkasan yang diduga berbau judi itu artinya pihak kepolisian masih memegang teguh norma-norma agama serta adat budaya Mandailing yang dikenal sebagai serambi mekkahnya Sumatera utara.

“Dengan ditutupnya permainan yang disinyalir oleh beberapa kalangan sebagai praktek judi berkedok uji ketangkasan, itu adalah sebagai bukti kecil kegigihan Polres Madina dalam menumpas segala bentuk perjudian yang ada di Madina,” jelasnya lagi.

Namun Mulyadi menilai banyak juga masyarakat juga meminta kepada pihak penegak hukum agar tidak hanya berlaku untuk pasar malam saja.

“Masyarakat meminta agar pihak kepolisian kembali mengkaji apa apa saja yang bisa menjadi sumber judi di Madina maupun praktek judi lainnya yang sedang marak di Madina,” bebernya.

Seterusnya Mulyadi mempertanyakan, jika uji ketangkasan yang semula dianggap hanya sebuah hiburan belaka dan tidak melibatkan taruhan yang menjadi ajang cari keuntungan dapat dinilai sebagai judi, berarti pertandingan sepakbola juga dapat dikategorikan sebagai pintu munculnya praktik judi karena otomatis di area pertandingan diduga akan ada taruhan yang lebih besar dan tentunya para pecinta bola yang berada di posisi saat itu akan memegang klub favorit masing-masing dengan memasang taruhan yang bervariasi pula.

Mulyadi juga mempertanyakan, bagaimana jika hal itu terjadi, apakah polisi akan tinggal diam atau menangkap pelaku yang taruhan atau menghentikan pertandingan yang menjadi sumber datangnya praktik judi tersebut?

“Bagaimana dengan judi lainnya seperti togel yang sampai saat ini masih berjalan. Bagaimana pula dengan warung-warung karaoke malam yang melibatkan wanita-wanita yang bebas dengan segala aktivitas sampai tengah malam?” lanjut Mulyadi.

Mulyadi menjelaskan, ini semua bukan sentimen namun harus jadi pekerjaan rumah (PR) yang harus ditindak.

“Dan masih banyak lagi nama baik Madina rusak, menurut saya bukan karena adanya pasar malam yang membuka uji ketangkasan, karena dia datangnya bukan tiap saat dan tiap hari hanya musiman, bahkan bisa dikatakan pasar malam ada di Madina hanya sekali setahun tapi kedatangan pasar malam dianggap merusak citra Madina hanya karena adanya permainan uji ketangkasan yang dianggap cuma hiburan, alangkah sentimennya,” sambun Mulyadi.

Dikatakan Mulyadi lagi, bagaimana dengan Narkoba yang 24 jam beredar hingga telah banyak merusak anak negeri Madina ini?

“Bagaimana dengan togel/kim yang siang malam selalu menggerogoti uang warga dengan iming-iming hadiah besar? Bagaimana dengan hiburan malam yang buka sampai tengah malam dengan karaokeannya disertakan dengan gadis-gadis belia sebagai penghibur di dalam ruangannya?” sambungnya lagi.

Mulyadi mempertanyakan lagi, Bukankah hal itu lebih pantas dikatakan merusak citra Madina?

“Mohon maaf jika saya salah berkata dan kalimat yang saya sampaikan mungkin kurang tepat pada tempatnya. Namun sebagai seorang Putra Madina, saya dapat berbicara untuk meluaskan segala unek-unek untuk kebaikan Madina semata. Tidak ada sentimen namun kita sebagai warga Madina tentu ingin yang terbaik kedepannya. Saya tegaskan, yang selalu mengganjal di dalam hati saya tentang statemen yang mengatakan tentang rusaknya citra Madina. Pada intinya kita sebagai anak bangsa khususnya dari Mandailing Natal jangan ada perpecahan tetap solid untuk Madina, koreksi, masukan, kritik dan saran itu memang wajib ada demi kemajuan Madina. Tidak pula kita saling menyudutkan satu sama lain, kita kuat karena kita satu,” pinta Mulyadi.

Mulyadi berharap sebagai stakeholder, ormas, LSM dan penegak hukum tetap bekerja sesuai tugasnya dan menerapkannya. (SN)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *