dutapublik.com, SAMBAS – Kabupaten Sambas merupakan daerah yang memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Salah satu kebudayaan yang tidak hilang adalah Antar Ajong. Antar Ajong ini dilestarikan pada dua Kecamatan saja, yaitu di Kecamatan Paloh dan Kecamatan Tangaran.
Antar Ajong ini dilakukan setiap tahun oleh warga, terutama di Kecamatan Paloh. Ritual ini dilakukan pada saat musim tanam (padi). Hal ini dilakukan sebagai tradisi yang dilakukan masyarakat dan diyakini dapat meningkatkan hasil panen di musim tanam yang baru. Termasuk masyarakat Desa Arung Medang lestarikan Budaya Antar Ajong pada tahun ini.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di pantai Arung Medang Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat pada Minggu (31/10).
Misra, salah satu masyarakat Desa Arung Medang yang ikut serta dalam kegiatan tersebut mengatakan, bahwa diselenggarakannya budaya Antar Ajong untuk menjaga dan melestarikan budaya turun temurun tersebut.
“Kegiatan ini salah satu tujuannya ingin melestarikan dan menjaga budaya leluhur kami yaitu Antar Ajong,” ungkapnya.
Lebih lanjut Misra mengatakan, bahwa Budaya Antar Ajong bisa masuk ke Sambas karena dipengaruhi oleh Budaya Hindu yang masuk ke tanah Melayu pada jaman kerajaan dan masih dilakukan sampai sekarang.
Misra juga menjelaskan, bahwa pada tahun ini Budaya Antar Ajong tidak akan lagi bisa dilaksanakan di Desa Arung Parak.
“Antar Ajong dilakukan di beberapa Desa seperti Arung Medang, Kalimantan, dan Arung Parak. Hanya saja untuk tahun ini Antar Ajong sudah tidak akan lagi diadakan di Fesa Arung Parak. Jadi hanya tersisa 2 Desa saja,” ujaranya.
Lanjut Misra, Kegiatan ini dilakukan setahun sekali setelah panen hasil bumi, seperti panen padi.
“Ajong (Perahu_red) dibawa ke pantai pada pagi hari, akan dilayarkan pada sore hari saat air pantai sedang surut dan diangkat oleh beberapa orang saat sudah siap dilayarkan, mulai dari jam 2 sampai 3 sore. Maka semua Ajong akan dilayarkan secara bersamaan,” imbuhnya.
Diungkapkan Misra Untuk tahun ini jumlah ajong yang dibuat oleh masyarakat setempat sebanyak 14 unit, dengan berbagai warna dan motif pada layarnya.
“Ajong dibuat oleh beberapa kelompok yang merupakan perwakilan dari beberapa Dusun atau Desa,” pungkasnya. (Urai Handewi Rahmawati)




