Nasib PMI (71): Warga Kabupaten Purwakarta Mengaku Diberangkatkan Jadi PMI Ilegal Timur Tengah Oleh PT. PTM

429

dutapublik.com, PURWAKARTA – Enung Nurlaela, warga Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, diduga jadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dengan diberangkatkan ke negara Timur Tengah menjadi asisten rumah tangga oleh sponsor bernama Kohar asal Bandung dan diproses oleh PT. Putra Timur Mandiri (PTM).

Hal itu terungkap setelah Enung Nurlaela mengadukan nasib yang dialaminya ke Posko Pengaduan PMI media dutapublik.com beberapa waktu lalu.

“Saya orang Purwakarta Pak. Saya jadi pembantu di rumah majikan di Riyadh. Sponsor saya namanya Pak H. Kohar orang Bandung, kalau gak salah dia punya istri muda di Plered Purwakarta dan saya diberangkatkan oleh PT. PTM,” jelasnya kepada media dutapublik.com melalui pesan WhatsApp.

Enung mengeluhkan jika dirinya mempunyai penyakit Asam Urat semenjak dirinya sebelum diberangkatkan ke negara Timur Tengah.

“Saya punya Asam Urat, jadi tangan saya terasa linu, berat dan kesemutan. Seminggu sebelum diterbangkan, saya dilakukan terapi terlebih dahulu. Sekarang penyakit Asam Urat saya menjalar ke tangan kiri, jadi dua tangan saya sekarang makin perih. Saya diberangkatkan tanggal 28 Mei 2022, dapat satu minggu di Syarikah Mahara, kemudian saya diambil majikan tanggal 8 Juni 2022,” ungkapnya.

Karena penyakit Asam Urat yang dideritanya dirasakan makin parah, Enung pernah mengeluhkan hal itu kepada Kohar selaku sponsornya.

“Saya udah mengeluh ke Pak Haji Kohar, kondisi penyakit Asam Urat saya dan ingin pulang. Namun Pak Haji Kohar malah minta uang denda kepada saya sekitar 15-20 juta jika ingin pulang katanya. Saya uang dari mana Pak! Di sini aja saya berobat menggunakan uang sendiri. Jika saya paksakan kerja, saya gak kuat Pak. Tolong saya Pak, saya ingin pulang karena sudah tidak tahan menahan rasa sakit,” bebernya.

Pengaduan demi pengaduan PMI Ilegal Timur Tengah yang diberangkatkan oleh PT. PTM hingga kini semakin bertambah, makin banyak jeritan dan tangisan PMI yang sudah tidak kuat ingin dipulangkan ke Indonesia. Akankah pemerintah mendengar dan peduli dengan air mata pejuang devisa tersebut?,” (N. Wirasasmita)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *