dutapublik.com, KARAWANG – Pendapatan produksi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di wilayah pesisir pantai dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya yaitu akses lalu lintas kapal nelayan yang melintasi saluran irigasi muara harus memadai, baik dari kedalaman maupun dari lebar mulut muara.
TPI Desa Ciparage Kecamatan Tempuran Kabupaten Karawang, Jawa Barat, adalah salah satu TPI yang memiliki produksi terbesar di Kabupaten Karawang. Namun, kondisi produksi tersebut sangat dipengaruhi oleh akses aliran irigasi di muara setempat.
Namun, kondisi saat ini mulut muara Ciparage masih terdapat sedimentasi yang menyebabkan kedangkalan. Sehingga kapal nelayan besar sangat sulit untuk melintasi mulut muara menuju ke TPI untuk menjual ikan hasil tangkapan.
Hal itu yang diungkapkan oleh Kartono, selaku Manajer TPI setempat, saat ditemui di tempat kerjanya.
“Pendapatan KPPL Samudra Mulya dalam bulan Juli dan Agustus 2022 turun hampir 70%, normalnya satu bulan hampir mencapai 4 miliar namun ada penurunan produksi menjadi kurang lebih 1 miliar,” ungkapnya kepada media dutapublik.com, pada Rabu (8/9).
Dijelaskannya, kendala tersebut salah satunya karena mulut muara terjadi pendangkalan sehingga banyak perahu nelayan yang enggan melewati mulut muara Ciparage.
“Semoga dinas perikanan pusat dan daerah segera merealisasikan keinginan nelayan agar segera melakukan penurapan mulut muara agar aktivitas nelayan bisa maksimal sehingga bisa meningkatkan pendapatan TPI,” harapnya.
Walaupun demikian, Kartono pun mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Karawang melalui Wabup H. Aep Syaepuloh, S.E., yang sudah merelisasikan pengerukan sedimen di mulut muara Ciparage beberapa waktu lalu.
“Namun pengerukan itu hanya bersifat sementara, karena sedimen akan kembali ke muara jika tidak diturap, ketika ombak besar datang sedimen akan terbawa lagi ke mulut muara sehingga terjadi lagi pendangkalan, kalo ada turap kan sedimen itu tidak akan balik lagi ke mulut muara,” ujarnya.
Dirinya menceritakan, belum lama ini ada nelayan asal Kabupaten Indramayu menjual ikan hasil tangkapaannya ke TPI Ciparage.
“Selama dua hari mereka menjual ikan hasil tangkapannya ke kita, nilainya mencapai 100 jutaan. Namun di hari ketiga kapalnya terdampar akibat menabrak sedimen, mengkaibatkan lambung kapal pecah, pembengkokan baling dan patahnya as serta besi kemudi bengkok, biayanya sangat besar harus ditanggung. Sehingga mereka tidak datang lagi untuk menjual ikan hasil tangkapannya ke kita,” terangnya.
Kartono yang kesehariannya mendengarkan keluhan para nelayan setempat tersebut, berharap banyak agar penurapan mulut muara tersebut segera direalisasikan demi kelancaran aktivitas para nelayan dalam mencari ikan. (N. Wirasasmita)





