PMI Ilegal Timur Tengah Asal Kabupaten Karawang Pulang Membawa Kisah Pilu Dugaan Perlakuan Kejam Oknum Pegawai Syarikah Tamkin, Riyadh-Saudi Arabia

405

dutapublik.com, KARAWANG – Nasib malang yang dialami, Iis Binti Warkim Dasan (42), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal Timur Tengah warga Desa Sumurgede Kecamatan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), berakhir sudah.

Pasalnya, Iis Binti Warkim Dasan, pada Senin (2/9/2024), telah menginjakkan kedua kakinya di tanah air Indonesia, yang dijemput langsung oleh, Nono Subandi, selaku suami tercintanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Hal itu yang dikatakan, Nono Subandi, bahwa, Iis Binti Warkim Dasan, sudah dalam perjalanan pulang ke negara Indonesia dengan menggunakan Srilankan Airlines UL 364.

“Assalamualaikum. Hari ini istri saya Alhamdulillah dalam perjalanan pulang Pak. Jadwalnya sih sekitar pukul 13.30 WIB sampai Bandara Soetta. Ini tiketnya saya kirimkan ya Pak. Saya sekarang mau berangkat menjemput istri saya ke Bandara Soetta,” ujarnya, kepada media dutapublik.com, melaui sambungan telepon, pada Senin (2/9/2024) sekira pukul 07.30 WIB.

Keterangan Gambar 2: Iis Binti Warkim Dasan, Saat Dijemput Di Bandara Soetta

Saat ditemui di kediamannya, Iis Binti Warkim Dasan, menceritakan kisah pilu yang dialaminya selama menjadi PMI ilegal Timur Tengah.

“Alhamdulillah saya sudah bisa pulang ke Indonesia dan berkumpul lagi denganĀ  keluarga saya. Saya bekerja jadi pembantu (ART_red) selama dua bulan dan saya sering sakit Pak. Kerjaan saya ngurusin Manula dan beres-beres rumah,” ujarnya, saat diwawancara media dutapublik.com, pada Senin (2/9/2024) malam.

Iis Binti Warkim Dasan, menceritakan bahwa saat dirinya bekerja di salah satu rumah warga negara Negeri Unta, Iis Binti Warkim Dasan, pernah mengalami kekerasan fisik oleh Sang Majikan.

“Manula yang saya urusin itu kan laki-laki. Saya disuruh oleh Majikan perempuan untuk menjaga dan ngurusin Manula itu yang merupakan suaminya. Kepala saya pernah dipukul oleh Manula itu dengan tongkatnya saat Manula itu saya larang untuk keluar rumah. Pernah juga saya dipukul di bagian kaki dan badan oleh Manula yang saya urusin itu. Galak dia mah gak bisa dilarang,” tuturnya.

Keterangan Gambar 3: Paspor Dan Tiket Pesawat Milik Iis Binti Warkim Dasan

Dirinya mengungkapkan, bahwa selama di Syarikah Tamkin, Riyadh, Saudi Arabia, Iis Binti Warkim Dasan, terus dipaksa harus bekerja oleh pegawai dan pengurus Syarikah Tamkin, walaupun dirinya sedang dalam keadaan sakit.

“Saya sakit aja harus berobat dengan uang sendiri. Saat di Syarikah, para TKW (PMI_red) dikenakan biaya harian sebesar empat puluh Riyal. Seperti Penjara Pak. Cacian dan omelan sudah jadi makanan sehari hari. Mungkin TKW yang sekarang ditampung di Syarikah Tamkin, Riyadh, ada empat ratus orang lebih.”

“Pokoknya para TKW yang ditampung di Syarikah, diperlakukan seperti Budak Pak. Ada TKW yang lagi Koma, ada beberapa TKW yang hamil, dan para TKW pun banyak yang mengeluh di Syarikah itu. Kalau ada TKW yang melawan kepada pegawai Syarikah, TKW itu akan dihukum dikurung. Saya aja pernah mau ditampar oleh salah satu pegawai Syarikah,” ungkapnya.

Melihat kejadian yang dialami, Iis Binti Warkim Dasan, seyogianya harus mendapat perhatian khusus dari instansi pemerintah terkait untuk melakukan evaluasi tentang keberadaan Syarikah, agar para PMI mendapatkan perlindungan yang maksimal. Karena, kejadian sama yang dialami oleh, Iis Binti Warkim Dasan, bukan kejadian kali pertama. (Nendi Wirasasmita)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *