dutapublik.com, GARUT – Tradisi halalbihalal terus berkembang di Indonesia hingga saat ini. Kata halalbihalal sudah dibakukan dalam Kamus Besar dan memiliki dua arti. Pertama, ialah hal maaf-memaafkan sebelum dan sesudah menunaikan Ibadah Puasa Ramadan. Kedua, juga diartikan sebagai bentuk silaturahmi, bersalam-salaman dan makan bersama.
Istilah halalbihalal memiliki makna mengurai kekusutan, kekeruhan maupun kesalahan yang telah diperbuat di waktu sebelumnya. Artinya, melalui halalbihalal, diharapkan semua kesalahan melebur, hilang dan kembali bersih.
Oleh karena saat ini masih diliputi masa pandemi COVID-19, maka suasana halalbihalal tidak lupa dengan menjaga prokesnya.
Adalah keluarga besar Alm. H. Syafei memiliki tradisi menyelenggarakan silaturahmi bersama kerabat dan saudara handai tolan melalui acara halalbihalal, pada Sabtu (8/1), berlokasi di Kp. Kaum Lebak, Garut.
Dalam rangka halalbihalal, secara rutin keluarga besar Alm. H. Syafei diantaranya keluarga Alm. Uyun, Alm Oyan Alm. Oma Permana Budiarti, Alm. Oya, Esih, Alm. Iroh, Alm. Epon Eliana, Alm. Onih Suhaeni, Alm. Asep Sudirman dan O0 Sunarya melakukan program yang melibatkan banyak keluarga dan saudara sehingga kerja sama dan komunikasi yang dilakukan ada kalanya tidak luput dari salah dan khilaf.
Pada momentum acara halalbihalal bertajuk “Mempererat Silaturahmi di Tengah Pandemi”, keluarga besar Alm. H. Syafei berupaya membangun kebersamaan dalam suasana saling memaafkan.

Keterangan Gambar 2: H. Mulya Saat Sambutan
Mengawali acara, sebagai bahan renungan bersama, dilakukan pembacaan ayat suci Al-Quran dilantunkan oleh Cepi. Sementara Dalam sambutannya, H. Mulya Mauludin mengatakan, secara harfiah menjelang bulan Ramadan merupakan bulan-bulan yang harus saling memaafkan dan harus sering diingatkan agar menjadi orang yang bertaqwa.
“Sesungguhnya tujuan kita menjelang berpuasa selama satu bulan penuh nanti adalah agar kita dapat menjadi orang yang rendah hati dan penuh rasa syukur.”
“Rendah hati adalah prasyarat mutlak agar kita mau dan terus belajar untuk mencapai kebesaran untuk bertaqwa untuk terus belajar karena kita memberikan masukan-masukan penting kepada hati kita dan kebijakan-kebijakan,” ujarnya.
Selain itu, lanjut H. Mulya, selama menjelang berpuasa, juga didik untuk menjadi orang yang memiliki kemampuan untuk selalu bersyukur.
“Bersyukur sangat penting, lebih menghargai hidup yang telah diberikan oleh Tuhan, menjaganya dengan sepenuh jiwa, menjaga kesehatan dan juga peduli dengan keselamatan orang lain,” imbuhnya.
Dikatakan H. Mulya, makna lebih besar bersyukur dalam hidup, adalah bekerja dan beribadah sebaik-baiknya, mengerjakan kebajikan serta menunaikan kewajiban ibadah yang diberikan kepada kita.
“Dengan demikian hidup kita akan jauh lebih bermakna dan menjadi Hamba Tuhan yang selalu bersyukur,” pungkasnya. (Made)





