Viral Kritik Sumbangan Natal ke Palestina, Langkah Maruarar Sirait Dinilai Bentuk Solidaritas

137

dutapublik.com, JAKARTA – Keputusan Maruarar Sirait memberikan sumbangan Natal bagi Palestina menuai kritik tajam di media sosial. Banyak warganet menilai bantuan itu tidak tepat dan seharusnya diprioritaskan untuk persoalan dalam negeri, seperti intoleransi dan kemiskinan. Perdebatan pun memanas, dengan komentar pro dan kontra mengenai langkah kemanusiaan yang diambil Maruarar.

Maruarar selama ini dikenal publik sebagai politisi Kristen, namun tidak banyak yang mengetahui kiprahnya dalam misi kemanusiaan. Sikapnya disebut sejalan dengan ayahnya, Sabam Sirait, tokoh nasional peraih Bintang Mahaputra yang sepanjang hidupnya konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan mengecam penjajahan Israel.

“Publik banyak yang tidak mengetahui kontribusi beliau dalam misi kemanusiaan, terutama dalam aspek kekristenan,” ujar seorang aktivis pergerakan, Ari Siringoringo di Jakarta Pusat, Kamis (27/11/2025).

Aktivis Ari Siringoringo menyebut publik perlu memahami konteks pemberian bantuan tersebut. Menurutnya, sumbangan Natal adalah bentuk solidaritas umat Kristen Indonesia kepada Palestina, mengingat rakyat Palestina pernah mendukung kemerdekaan Indonesia meski berada dalam kondisi sulit.

Ari menilai sejarah ini penting diingat, terutama oleh umat Kristen. “Kita harus mengingat solidaritas bangsa Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, dukungan itu diberikan bukan dalam kondisi yang ideal. Sumbangan Natal tersebut adalah sebagai kontribusi kemanusiaan dan kebangsaan bagi Palestina,” ujarnya.

Sabam Sirait sendiri memiliki catatan panjang dalam mendukung Palestina. Ia pernah mengenakan syal bendera Palestina saat pelantikan sebagai anggota DPD RI pada 2021 dan kerap turun ke jalan mengikuti aksi solidaritas. Dalam wawancara tahun 2007, Sabam menyampaikan bahwa penderitaan rakyat Palestina juga merupakan penderitaan umat Kristen.

Ia menegaskan bahwa banyak orang Kristen di Palestina mengalami penindasan dan tidak diperbolehkan beribadah. “Penderitaan rakyat Palestina juga penderitaan orang Kristen,” ujar Sabam Sirait dalam wawancara 2007.

Ari menilai dukungan tokoh-tokoh Kristen seperti Sabam dan Maruarar perlu dicatat sebagai bagian dari sejarah solidaritas Indonesia terhadap Palestina. Ia menegaskan bahwa persoalan Palestina bukanlah isu agama, tetapi perjuangan kebangsaan untuk merdeka, bersatu, dan berdaulat. Karena itu, ia meminta umat Kristen tidak terjebak pada sentimen agama atau rasialisme.

“Persoalan Palestina bukanlah persoalan agama, tetapi persoalan kebangsaan,” tutur Ari Siringoringo.

Terkait kritik yang menyebut bantuan itu seharusnya diberikan kepada umat Kristen miskin di dalam negeri, Ari mengaku setuju. Namun ia menilai kritik tersebut kerap tidak konsisten. Ia menyebut banyak gereja megah berdiri sementara umat miskin di sekelilingnya tak tersentuh perhatian.

“Kuman di seberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak,” tutupnya. (Nando)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *