Warga Perumahan Graha Nadya Bekasi Pulasara Jenazah Covid-19 Gunakan Jas Hujan Dan Peti Mati Beli Sendiri

606

dutapublik.com, BEKASI – Akibat ketidaksiapan para Petugas Tenaga Kesehatan (Nakes) dari Gugus Tugas Puskesmas Sukatani Kabupaten Bekasi dalam penanganan pemulasaraan Jenazah positif Covid-19, yang terjadi di Perumahan Graha Nadya Desa Sukamulya Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi Jawa Barat.

Adalah Rahmat (40) salah satu warga Perumahan Graha Nadya yang sebelumnya sudah dinyatakan positif terpapar Covid-19 dan telah menjalani Isolasi Mandiri (Isoman) akhirnya meninggal dunia, pada Senin (12/7).

Dari pantauan awak media di rumah duka, warga yang mengangkat dan memulasara Jenazah Rahmat adalah warga Perumahan Graha Nadya sendiri yang hanya menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seadanya, yaitu hanya dengan menggunakan jas hujan.

Edi, selaku Ketua RT setempat menerangkan, bahwa untuk Peti Jenazah saja, keluarga Almarhum Rahmat harus merogoh kantong sendiri karena tidak ada bantuan dari Gugus Tugas Kecamatan Sukatani.

“Ada dua orang Pihak Nakes, yaitu Bidan Desa dari Puskesmas yang datang untuk mengecek dan Pak Rahmat dinyatakan meninggal dunia sekitar setengah jam yang lalu. Jenazah Rahmat rencananya akan dimakamkan di Kampung Muhara RT. 002/001 Rangkasbitung Kabupaten Lebak Provinsi Banten, itu permintaan dari pihak keluarga,” jelasnya.

Ia menyampaikan rasa herannya, bahwa Nakes dari Puskesmas Sukatani yang datang ke rumah duka tidak melepaskan tabung oksigen yang dipakai oleh Almarhum. Padahal sudah jelas Rahmat dinyatakan meninggal dunia.

“Dan sangat kami sesalkan, seharusnya pihak Puskesmas melepas selang oksigen dan infus yang ada di Almarhum, tapi ini dibiarkan. Kalau dari pihak Gugus Tugas tingkat Desa Alhamdulillah sudah datang baik dari Kadusnya, Babinsa, Bimaspol, saya sebagai RT sudah melaporkan ke pihak Gugus Tugas Desa Sukamulya,” ujarnya.

Lanjut Edi, Ia sangat menyesalkan kepada pihak Puskesmas Sukatani yang tidak menyediakan APD. Padahal menurut Edi, sudah jelas bahwa Almarhum Rahmat meninggal akibat terpapar Covid-19 yang sedang menjalani Isoman.

“Kami kembali menyesalkan dengan adanya Jenazah yang memang sudah terpapar Covid-19 seharusnya penanganannya memakai APD. Dengan tidak adanya APD dari pihak Puskesmas Sukatani, Akhirnya kami dan warga Perumahan Graha Nadya berinisiatif membeli Jas hujan di Alfamidi sebagai pengganti APD dan warga yang mengeksekusi Jenazah Pak Rahmat dan untuk Peti Mati pun kami patungan bersama warga Perumahan Graha Nadya karena Jenazah langsung dibawa ke Rangkasbitung.”

“Sebenarnya banyak yang disesalkan hari ini, dari ketidaksiapan dan kurang profesionalnya tim Gugus Tugas Puskesmas Sukatani. Dari pihak Puskesmas sampai saat ini tidak ada tindak lanjut penanganan terhadap anak istrinya Almarhum. Kan mereka yang lebih paham seperti melakukan Swab dan ini yang sangat saya sesalkan sebagi RT,” ucapnya.

Sementara itu dr. Yuda selaku Kepala Puskesmas Sukatani, melalui pesan WhatsApp kepada awak media menjelaskan, bahwa dirinya sudah memberikan instruksi kepada Nakes untuk melakukan pengecekan ke rumah duka.

“Itu yang di Graha Nadya, tadi Nakes kita sudah ke sana untuk cek kematian dan juga sudah diinfokan APD bisa diambil di PONED. Dokter Jaga sudah saya minta hubungi Dinas Pemakaman,” terang dr. Yuda melalui pesan WhatsApp, pada Senin (12/7).

Dikatakan dr. Yuda, bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Pemakaman dan mengatakan bahwa saat ini dirinya sedang sakit.

“Ya, dr. UGD juga sudah hubungi Dinas Pemakaman dan saya juga sudah minta kirimkan nomor Dinas Pemakaman ke Pak RT. Kebetulan saya saat ini sakit, ada aja masalah. Saya kirim Nakes dua orang, Perawat dan Bidan Desa,” imbuhnya.

Ketika disinggung terkait APD menggunakan Jas Hujan diperbolehkan atau tidaknya, Ia memberikan alasan bahwa dari pihak RT setempat memberikan informasi bahwa di rumah duka sudah ada Nakes dari RSUD Bekasi. Sehingga Nakes dari Puskesmas Sukatani tidak kembali ke Puskesmas lagi untuk mengambil APD dan lainnya.

“Ga tau Bang. Saya sudah infokan. Mungkin karena dari RT bilang ada dari pihak RSUD. Jadi mereka tidak ke Puskesmas lagi. Saya juga sudah koordinasi dengan Dokter di Puskesmas, Bidan Desa dan Perawat. Dari kemarin kita juga sudah fasilitasi oksigen,” terangnya.

Diketahui, warga Perumahan Graha Nadya, pertama dilakukan tes Swab pada Jumat (3/7) dan termasuk Almarhum Rahmat yang menyusul tes Swab di RS. Kasih Insani. Hasilnya sebanyak 16 orang warga yang terpapar Covid-19, 1 orang meninggal dunia, sembuh 10 orang 5 orang masih menjalani proses Isoman. (SS)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *