Rumah Warga Desa Karangpatri Nyaris Ambruk, Namun Tak Kunjung Dapat Perhatian Pemerintah

837

dutapublik.com. BEKASI – Kondisi rumah tinggal sepasang suami istri bernama Arno (43) dan Bosih (46), yang tidak layak huni dikarenakan sudah rapuh dan hampir ambruk, membuat pasangan suami istri warga Desa Karangpatri Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi tersebut, terpaksa harus mengungsi dan menumpang di rumah saudaranya yang juga diketahui rumahnya kurang layak huni.

Ketika dimintai keterangan oleh awak media, Arno mengatakan, kondisi rumahnya sudah rapuh dan keropos karena usia bangunan yang sudah tua.

“Akibat rumah saya yang sudah rapuh dan mau ambruk, saya terpaksa harus ngungsi di rumah saudara. Sebab, kalau saya tetap bertahan tinggal di rumah saya takut rumah saya ambruk dan menimpa saya,” tuturnya, pada Sabtu (29/5).

Ia kemudian menunjukkan detail kondisi rumahnya yang memang sudah tidak layak huni tersebut.

“Lihat saja Pak sendiri. Kondisi rumahnya sudah pada keropos dan tiang-tiang sudah pada patah. Tuh, lihat dari samping biliknya sudah hancur, tiangnya sudah saya tunjang pakai bambu, karena kalau gak saya tunjang, ini sudah roboh,” terangnya.

Arno pun menambahkan, bahwa
selain itu, bagian atap rumah dan bagian dinding serta kayu sudah dipenuhi retakan dan berlubang akibat dimakan usia.

“Maklum, rumah ini sudah tua dan tak pernah direnovasi jadi begini. Karena tak punya biaya Bang,” keluhnya.

Diketahui, Pria 43 tahun itu sehari-harinya hanya bekerja serabutan. Ia pun menceritakan, terkadang bekerja sebagai kuli bangunan ketika diajak temannya. Namun terkadang pula Ia menjadi pemulung.

“Kadang, saya kuli bangunan kalau lagi ada yang ngajak, kalau tidak ada yang ngajak saya mulung dan saya kumpulkan selama satu minggu, baru saya jual dengan hasil uangnya 200 ribu rupiah. Dengan penghasilan segitu, saya tidak mampu untuk memperbaiki rumah, hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Mana bisa buat ngebangun rumah,” ujarnya.

Disinggung terkait bantuan apa saja yang sudah didapatinya dari beberapa program Pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat, Arno hanya bisa mengeluh, karena seingat dirinya baru satu kali mendapatkan bantuan berupa Sembako.

“Pak, selama saya tinggal di sini, saya tidak dapat bantuan apa-apa dari Pemerintah. Kecuali dari Sekolah anak saya dan bantuan Sembako sekali-kalinya waktu ada bantuan yang ramai-ramai masalah Covid atau apa itu saya gak tau. Terus yang katanya ada bantuan bulanan itu saya gak dapat. Padahal sangat berharap dapat bantuan agar dapat meringankan beban hidup sehari-hari,” bebernya.

Sementara itu, Royani yang biasa disapa Nani selaku kakak ipar Arno, yang rumahnya tak jauh dari rumah Arno tempatnya menumpang, membenarkan bahwa Arno dan istrinya sekarang menumpang dirumahnya.

“Ya beginilah Pak keadaannya, rumah saya yang ditumpangi Adik Ipar saya, kondisi juga kurang layak untuk ditempati. Lihat bawahnya masih tanah dan itu masih basah bekas banjir kemarin,” ungkapnya.

Nani berharap, ada pihak terkait yang bisa membantu Arno, yang kondisi rumahnya sekarang sangat memprihatinkan.

“Tolong Pak dibantu Adik Ipar saya keadaannya sangat memprihatikan, rumahnya sudah mau ambruk. Bahkan kalau gak disangga, itu udah ambruk. Selain itu, Adik yang kerjanya serabutan dan penghasilanya sehari-hari cuma cukup buat makan, biar cepat dapat bantuan baik dari Pemerintah atau dari Dermawan.”

“Sementara Adik saya tinggal di rumah ini, Anak saya ngalah dulu. Sebab saya kasihan sama Adik saya kalau tetep tinggal di rumahnya takut ambruk niban Adik dan Anaknya, lihat aja sendiri Pak keadaannya. Saya sangat berharap agar segera dapat bantuan dari manapun datangnya,” pungkasnya dengan penuh harap. (SS)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *