dutapublik.com, KARAWANG – Tim Sang Kuriang Delapan melalui keterangan tertulisnya kepada awak media dutapublik.com, memberikan pandangannya terkait Radikalisme dan sekaligus mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk menggelorakan sikap Anti Radikalisme.
“Anti Radikalisme adalah gerakan Anti Kekerasan yang biasanya gerakannya berdasarkan sila-sila Pancasila yang sangat menentang adanya sebuah Radikalisme atau Gerakan Perpecahan antar Bangsa.”
“Radikalisme dapat berkembang karena adanya pemikiran bahwa segala sesuatunya harus dikembalikan ke Agama walaupun dengan cara yang kaku dan menggunakan kekerasan,” katanya, dalam keterangan tertulisnya, pada Minggu (18/7).
Masalah ekonomi, lanjutnya, juga berperan membuat paham Radikalisme muncul di berbagai Negara. Sudah menjadi kodrat manusia untuk bertahan hidup dan ketika terdesak karena masalah ekonomi, maka manusia dapat melakukan apa saja, termasuk meneror manusia lainnya.
Dikatakannya, adanya pemikiran sebagian masyarakat bahwa seorang Pemimpin Negara hanya berpihak pada pihak tertentu, mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang terlihat ingin menegakkan keadilan. Kelompok-kelompok tersebut bisa dari kelompok Sosial, Agama maupun Politik.
“Alih-alih menegakkan keadilan, kelompok-kelompok ini seringkali justru memperparah keadaan. Masih erat hubungannya dengan faktor ekonomi. Sebagian masyarakat kelas ekonomi lemah umumnya berpikiran sempit.”
“Sehingga mudah percaya kepada tokoh-tokoh yang radikal karena dianggap dapat membawa perubahan drastis pada hidup mereka. Peristiwa pahit dalam hidup seseorang juga dapat menjadi faktor penyebab Radikalisme,” imbuhnya.
Tim menerangkan, bahwa masalah ekonomi, masalah keluarga, masalah percintaan, rasa benci dan dendam, semua ini berpotensi membuat seseorang menjadi Radikalis.
“Pendidikan yang salah merupakan faktor penyebab munculnya Radikalis di berbagai tempat, khususnya pendidikan Agama. Tenaga pendidik yang memberikan ajaran dengan cara yang salah dapat menimbulkan Radikalisme di dalam diri seseorang,” katanya.
Sementara itu, Tim juga menjelaskan tentang Fenomena Radikalisme Agama yang merupakan persoalan yang berhubungan dengan pengalaman inti, memori kolektif dan penafsiran Agama.
“Secara umum setiap Agama memiliki dua fungsi. Pertama, Fungsi Manifest, yaitu fungsi yang disadari betul oleh para pengikutnya sebagai manifest objektif dari suatu sistem sosial. Misalnya meningkatkan kehestivitas umat (ukhuwah islamiyah).”
“Kedua, Fungsi Laten, yaitu fungsi yang tidak dikehendaki secara sadar dari sistem sosial tersebut dalam memunculkan Radikalisme dan Agama merupakan lahan empuk untuk menjadi ‘crying banner’ dalam melakukan tindakan Radikalisme,” terangnya.
Tim juga menjelaskan, bahwa sebenarnya Radikalisme bisa ditindak kalau Bangsa Indonesia mau saling percaya satu sama lain saling toleransi.
“Pasti akan terwujud yang namanya Negara damai dan tentram. Layaknya semboyan kita yaitu BHINEKA TUNGGAL IKA meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu,” pungkasnya.
Jadi kesimpulannya, menurut Tim, Indonesia merupakan Negara yang besar dengan berbagai macam perbedaan Ras, Budaya dan Agama. Sangat mudah untuk pihak-pihak tertentu memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Apabila Rakyat Indonesia tetap bertahan dengan ego masing-masing maka cepat atau lambat Indonesia akan berdampak makin buruk atau mungkin hancur secara ideologi.
Maka dari itu, Tim mengimbau, bahwa perbedaan bukan dijadikan sebagai pemecah tetapi menjadi keberagaman suatu Negara dan menjadi pemersatu antar Bangsa. Negara yang baik, yaitu Negara yang bisa menjadikan suatu perbedaan menjadi satu sama dengan yang lain. (Jhokun)





