dutapublik.com, MEMPAWAH – Pelaksanaan resepsi pernikahan putri kedua Ketua Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM) Mempawah berjalan dengan sukses. Kegiatan itu dilaksanakan di jalan sepakat Desa Bakau Kecil Kecamatan Mempawah Timur Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pada Minggu (13/3).
Sangat jarang ditemukan, prosesi pernikahan yang dibalut dengan berbagai tradisi/budaya Madura itu terbilang sukses diselenggarakan. Mulai dari penampilan seni tari khas Madura, pencak silat khas Madura, Kesenian Sandur khas Madura, penyerahan berbagai macam hasil pangan seperti buah kelapa, pisang, pinang dan padi.
Selain itu pihak laki-laki juga menyerahkan seeokor sapi yang sudah di hias dan hal itu menjadi tradisi orang Madura sejak dahulu kala. Penyerahan sapi tersebut dilakukan oleh tokoh pemuda Madura mempawah Rajuini, S.Pd.I., yang merupakan perwakilan dari pihak laki-laki dan diterima langsung oleh H. Muhammad Pagi, S.H.I., M.M., yang bertindak sebagai perwakilan dari mempelai wanita.
Ketua IKBM Mempawah Usman Alatas mengatakan, bahwa dirinya sengaja mempertontonkan kepada masyarakat terkhusus warga Madura berkaitan dengan tradisi orang Madura yang dilaksanakan pada saat resepsi pernikahan.
“Sebenarnya orang/suku madura itu banyak sekali tradisinya. Namun di Mempawah sendiri masih sangat jarang ditemukan. Untuk itu keberadaan IKBM ini sedikit demi sedikit mengenalkan tradisi yang ada kepada masyarakat di Kabupaten Mempawah ini. Harapannya agar tradisi ini tidaklah hilang begitu saja. dan bisa direalisasikan juga oleh yang lainnya,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, dirinya juga sama-sama mengajak masyarakat untuk lebih jauh mengenal tradisi yang ada pada suku Madura. Ia menegaskan, keberagaman tradisi yang ada pada setiap suku adalah simbol kekayaan bagi negara dan simbol kekuatan bagi masyarakat Indonesia itu sendiri.
Muhammad Pagi selaku Wakil Bupati Mempawah mengapresiasi terlaksananya prosesi pernikahan yang menampilkan sebuah tradisi Madura di Kabupaten Mempawah.
“Saya selaku Wakil Bupati Mempawah mengapresiasi kepada ketua IKBM Mempawah. Tradisi yang jarang sekali ditemukan ini harus terus dilestarikan terutama untuk generasi milenial sekarang ini. Di mana tradisi dan budaya Madura seakan tidak mereka kenal,” ucapnya.
Di kesempatan yang lain, Junaidi yang merupakan Budayawan Madura menerangkan tetang tradisi Saweran yang saat itu juga dilaksanakan untuk kedua mempelai.
Ia menjelaskan, bahwa Ontalan atau yang lebih dikenal dengan Saweran bagi Tradisi Madura di saat seorang lelaki anak warga keturunan Madura sedang melamar seorang gadis.
“Pihak dari keluarga lelaki memberi atau dalam jaga Nyagoni Sang Calon Mantu Perempuan. Jadi Ontalan/Saweran ini sebagai awal untuk memberikan rezeki pada Calon Mantu. Artinya Gotong Royong dalam membantu kehidupan awal calon pasangan suami istri dalam membina rumah tangga,” tutupnya. (Pathol Kurib)





